Jumat, 29 Mei 2020

Samudera yang Belum Selesai


Lagu sendu dan sunyi mengaum gelisah
temani tubuh kekarku tekuni jalanan bisu
tandas dan tuntas berjuta tanya tersembur
tandas dan tuntas berjuta ingin terhambur
menerobos mendung dan kabut tanpa warna

Aku bertanya
pada siapa kuhendak bertanya dan mengadu?
Angin terbahak
berdesir sinis dan kering padaku
ada bincang-bincang tak imbang

Halaman tentang mengupas diri rupanya belum usai
banyak duri mengoyak jubahku
kelak kan kubasuh dengan darah biruku

Hai aku,
tersenyumlah
bersujudlah
Cinta ingin hadir untukmu

~~

"Bu! Buka pintu!"

Samudra menggedor pintu dengan keras. Badannya yang limbung disandarkannya di pintu sambil terus menggedor dan berteriak dengan nyaring. Minuman keras membuatnya tidak sadar bahwa suaranya dan pukulan di pintu amat keras, hingga bisa didengar oleh tetangga yang sedang bermimpi sekalipun.

"Ibu! Aku dobrak nih, pintu!" teriak Samudra lagi.

Ibunya tergopoh-gopoh, berjalan setengah berlari ke arah pintu. Nyawanya belum sepenuhnya menyatu dengan tubuhnya, setengah sadar dibukanya pintu dengan tangan gemetar karena terkejut.

"Lama banget, sih!" bentak Samudra sambil menerobos ke dalam rumah.

Aroma minuman keras murahan menyeruak dan menyebar ke seluruh ruangan, membuat Ibunya sedikit menjauh dan menutup hidung. Hatinya mengalunkan istighfar, memohon ampunan untuk putranya tercinta, lalu kembali menutup pintu rumah dan masuk kamarnya diam-diam. Duduk di tepi pembaringan, dihapusnya air mata yang telah melenyapkan rasa kantuk, sambil menatap foto usang suaminya yang tergantung di dinding kamar dengan tenang.

"Apa lagi yang harus kulakukan pada anakmu itu, suamiku? Kenapa kau biarkan aku berjuang sendiri? Apakah di sana engkau melihat semua yang terjadi di sini?"

Perlahan perempuan itu merebahkan tubuhnya yang kurus di pembaringan. Matanya menerawang jauh, mencari bayangan suaminya, untuk menyusun sedikit kekuatan. Pikirannya tak lepas dari putra sulungnya yang belakangan lebih sering pulang hampir pagi dan dalam keadaan tidak sadar. Bayangan bahwa putranya itu kelak lulus kuliah dengan gelar insinyur perlahan menjauh dari angannya. Harapan bahwa Samudra kelak dapat mengangkat kembali derajat hidup mereka seperti sedia kala, seolah semakin menjauh. Ibu Samudra tak dapat memejamkan mata lagi sampai suara ayam tetangga memanggilnya untuk segera memulai kegiatannya. Kegiatan rutin yang semakin hari semakin membuatnya dihinggapi keraguan akan keberhasilannya mengantar kedua anaknya pada masa depan masing-masing.

"Samudra, bangun, Nak. Hari sudah siang," kata Ibu Samudra dengan suara lembut, selembut pengorbanannya yang mengikis ceria dan kemudaannya perlahan.

Berulang kali digoyangnya tubuh sang anak yang masih terbungkus selimut tebal melenakan itu. Samudra menggeliat dengan malas, duduk dengan malas pula, lalu memandang ibunya dengan kesal.

"Ada apa sih, Bu. Aku masih ngantuk!" Samudra kembali meringkuk di bawah selimut. Hatinya ingin mengatakan bahwa dia sedang menikmati tidur, dan masih ingin lebih lama menikmatinya, seolah nanti tiada waktu lagi tersisa untuk tidurnya.

"Bangun, Nak. Kamu sudah melewatkan Subuh. Sekarang bangun dan siap-siap berangkat kuliah."

"Samudra capek, Bu. Hari ini nggak masuk kuliah."

"Kemaren kamu sudah nggak masuk. Kalau hari ini nggak masuk lagi, mau dapat apa kuliahmu itu. Ayo, sana mandi." Ibu Samudra duduk di tepi tempat tidur. Ditariknya selimut Samudra perlahan, "Ayolah, Nak, kaki Ibu rasanya sudah mulai pegal bolak-balik ke sini membangunkanmu."

"Ya sudah, kenapa Ibu masih ke kamar Samudra lagi?"

"Kamu harus bersiap sekarang, nanti pulang kuliah jemputlah adikmu si Upik. Jangan terlambat lagi seperti kemaren, kasihan dia."

"Terus, sorenya langsung mengantar kue ke warung? Terus apa lagi, Bu? Apa lagi daftar tugas untuk Samudra?"

"Lalu, Ibu harus minta tolong siapa lagi, Nak. Sejak ayahmu meninggal tidak ada lagi yang membiayai kehidupan kita. Satu-satunya harapan kita ya kue-kue itu."

Samudra melempar selimutnya dan melangkah keluar kamar dengan wajah bersungut-sungut menahan kesal. Tak dipikirkannya bagaimana perasaan sang Ibu menerima perilakunya yang bagai tak pernah mengenal kasih ibu. Untuk membangunkan mimpinya yang masih bergelayut dihirupnya kopi yang sudah tersedia di meja makan. Kemalasannya sungguh tak dapat merasakan, betapa nikmat kopi yang sudah tersedia di pagi hari, tanpa harus repot-repot menyeduhnya dulu.

Terlampau jauh dari rasa syukur, Samudra duduk di ruang tengah sambil menyalakan rokok. Dinyalakannya televisi sambil merebahkan kembali tubuhnya yang kumal di kursi panjang berdebu dan usang. Ibunya mengelus dada melihat tingkah anaknya. Dihampirinya anak itu, lalu duduk di sampingnya. Kelembutannya tak juga sirna oleh rasa kecewa dan murka yang dideritanya. Kasih sayangnya tak terhapus oleh kerasnya perjuangan mendidik sang jabang bayi yang sudah bertumbuh usianya.

"Kamu yang sabar ya, Nak. Nanti kalau kamu sudah lulus kuliah, carilah pekerjaan yang cukup penghasilannya, biar tidak hidup seperti ini terus."

Samudra mendengus, "Tiap hari itu terus yang Ibu katakan."

"Memang itu cita-cita dan harapan Ibu. Tiap malam Ibu selalu berdoa agar kamu dan Upik kelak hidup bahagia. Makanya Ibu tak kenal lelah berjualan kue. Tugasmu cuma mengantarkannya, karena adikmu masih kecil dan belum bisa ditinggal."

"Tumpukan keranjang berisi kue-kue Ibu itu berat, makanya harus Samudra yang mengantarkan. Begitu kan, Bu?"

Samudra seperti tak mau lagi melumuri telinganya dengan mendengar kalimat-kalimat jawaban ibunya selanjutnya, segera beranjak berdiri, mengambil handuk dan masuk kamar mandi. Di sana dia akan merasa aman dari sumber-sumber dan jalan kehidupan yang disebutnya sebagai petuah usang sang Ibu. Ibu Samudra kembali mengelus dadanya dan berlalu ke dapur, kemudian bergelut memperjuangkan hasil yang sempurna untuk kue-kuenya. Diiringi doa tiada putus, diolahnya kue-kue itu bertabur dengan syukur pada Sang Maha Adil. Tak lupa diselipkannya doa agar putra tercintanya berubah dan tumbuh menjadi manusia yang layak.

~

"Sam, kamu ini gimana toh, runtang-runtung sama si Ratna, tapi ndak jelas pacaran apa ndak," kata Jamal seusai kuliah.

"Siapa bilang kami pacaran?" jawab Samudra sambil menyisir rambutnya yang seperti tidak pernah bersisir itu dengan tangannya.

"Lho, jadi kamu itu ndak suka toh sama Ratna? Ndak cinta?"

"Emang kenapa?"

"Lha, kalau kamu ndak cinta sama dia, ya biar aku saja yang bilang cinta sama dia. Wong aku itu tertarik sama dia sudah lama, lho."

"Emang kamu berani?"

"Kalau rasa ini sudah mendesak, ya berani saja, Sam."

Samudra menghentikan langkah dan menarik kerah Jamal, lalu berkata dengan raut serius, "Kamu berani macam-macam, tak potong lehermu!"

"Lho, kok jadi marah? Tadi katanya ndak mau dibilang pacaran. Sekarang kok, marah? Berarti kamu itu cinta sama dia," tangkis Jamal sambil melepaskan tangan Samudra dari kerahnya. Tawanya berderai, merasa pancingannya mengenai sasaran. Samudra memerah mukanya, merasa jendela hatinya sedikit terbuka oleh sahabatnya.

"Emang kalau orang pacaran harus bilang cinta toh, Mal?"

"Lha iya, toh. Harus itu. Biar pasti. Dan, si Ratna juga ndak ragu-ragu mau menganggap kamu itu apa."

"Kalau ditolak, bagaimana?"

"Ya ndak mungkin. Masa hatimu buta. Tiap kamu dekati dan ajak dia ngobrol, keliatan senang banget gitu. Ditambah tersipu-sipu. Terus, temen-temen pria yang lain ndak digubris lagi. Itu tandanya dia suka sama kamu."

Samudra berpikir sebentar, "Tapi, aku kan belum kerja, kuliah aja masih separoh waktu."

Jamal tergelak, "Lha emangnya kamu mau kawin? Cuma bilang cinta saja kok nunggu kuliah selesai dan kerja."

"Jadi?"

"Ya, bilang cinta saja dulu, terus resmi pacaran. Habis itu biar Allah yang ngatur. Kamu tinggal menjalani saja. Orang kawin itu kan ada prosesnya, Sam. Kalau kalian memang jodoh kan, akan seterusnya berjalan."

Samudra tidak menjawab, diam ditelan bisu. Kembali kemalasannya tidak mau membiarkannya berpikir sejenak. Digaruknya kepala yang tidak gatal, ditendangnya kerikil yang diam tidak mengganggu, dipetiknya kuncup mawar yang sedang ingin mekar, lalu dilemparnya begitu saja ke tepian jalan berdebu.

Jamal menyenggol lengannya, "Gimana?"

"Entahlah. Malas aku mikirin itu."

~

Sore hari, Ibu Samudra kembali menemukan anaknya sedang meringkuk di bawah selimut. Wanita tua itu menghela napas berat. Matanya sayu memandangi anaknya, lalu kembali ke dapur dengan langkah lelah. Diangkatnya kue-kue yang sudah tersusun rapi di keranjang.

"Ibu mau ke mana?" tanya Upik.

"Mau mengantar kue ke warung, Sayang. Upik di rumah, ya."

"Ikut," jawab si kecil langsung memegangi kain ibunya.

"Ya sudah, tapi nggak boleh gendong dan minta jajan, ya."

Si kecil mengangguk dengan patuh sambil tersenyum lebar. Ibu Samudra menggendong keranjang kue sambil menuntun si kecil berjalan keluar dari rumah dengan tertatih-tatih. Kaki tuanya menapaki jalanan kecil berkelok menuju beberapa warung yang tiap hari dititipinya kue. Sebentar-sebentar wanita itu berhenti untuk membetulkan gendongannya. Pundaknya yang sudah turun kini semakin turun oleh beban yang mungkin lebih berat dari tubuhnya sendiri.

Si kecil yang tiba-tiba bisa bersikap manis seperti keinginan ibunya bertanya, "Berat ya, Bu?"

Ibunya mengangguk, lalu tersenyum menenangkan hati putrinya yang sudah mencoba menghibur dan menambah kekuatannya untuk meneruskan langkah yang semakin berat.

~

Samudra tertegun. Tiba-tiba tubuhnya terasa kaku dan dingin. Padahal tubuhnya memang sedang terbujur kaku dan dingin dalam bungkusan kain putih seputih jiwanya saat pertama kali mendapat haknya mencicipi nikmatnya udara segar. Jantungnya bagai berhenti berdetak. Padahal jantung itu memang sudah berhenti berdetak sejak dia dimandikan bersama alunan doa mengiris jiwa.

Orang-orang berkumpul mengelilingi jenazah yang baru selesai dimandikan. Jenazah Samudra. Sebagian ada yang menangis. Ada juga yang berwajah datar-datar saja. Dan, ada yang berbisik-bisik dengan pelayat yang duduk bersebelahan.

"Padahal Samudra itu harapan ibunya setelah ayahnya meninggal," kata seorang Ibu.

"Hayah, harapan apa? Disuruh anterin kue ke warungku saja ibunya kudu ngrayu-ngrayu dulu," jawab Ibu sebelahnya.

"Iya, mana adiknya, si Upik itu, masih kecil, ya," sahut yang lain.

"Kasihan ibunya Samudra. Siapa lagi nanti yang bantuin dia."

"Jualan kue mati-matian untuk biaya kuliah Samudra, malah hasilnya mayat terbujur kaku begini."

"Kuliahnya juga malas! Pernah saya lihat ibunya sampai nangis gara-gara si Samudra itu malas kuliah!"

"Saya sudah pernah nasehatin ibunya Samudra agar tidak usah nurutin kemauan anak itu untuk kuliah, tapi ngeyel."

"Mana belum nikah, ya."

"Jangankan nikah, pacar saja dia belum punya."

"Siapa yang mau sama anak pemalas kayak gitu? Malas bantu ibunya, malas kuliah, malas shalat pula!"

Samudra tertunduk penuh sesal mendengar pembicaran itu. Semua yang dikatakan ibu-ibu itu benar adanya. Kalau sudah begini, apa yang bisa diperbuatnya? Dilihatnya sang pujaan hati juga ikut menangis pilu di samping jenazahnya. Tak dipedulikannya pandangan para pelayat lain yang terheran-heran, siapa gerangan gadis tak dikenal yang sedang menangis di depan jenazah Samudra itu?

"Eh, itu si Ratna datang juga melayat," bisik salah satu teman kuliah Samudra di ujung ruangan.

"Iya. Kasihan ya, belum sempat pacaran sudah ditinggal," balas teman Samudra yang lain.

"Padahal sebenarnya mereka sama-sama saling cinta."

"Samudra memang nggak pernah serius orangnya. Meremehkan semua persoalan. Dasar gemblung!"

"Kemaren Samudra dipanggil Pak Saman untuk ujian ulang juga nggak ngreken. Nilainya amburadul semua tuh anak."

"Gimana mau dapat nilai bagus, lha wong kuliah saja jarang masuk."

Samudra berlari, lalu berteriak di balik pintu, "Ya Tuhanku, aku belum menyelesaikan urusanku dengan pujaan hatiku, kenapa aku sudah berada di garis pengadilan-Mu?" Tangannya terulur hendak membelai rambut sang kekasih, tapi tak sampai. "Bahkan aku belum mengatakan cinta padanya."

Bibir Samudra bergetar, mendesis penuh sesal. Dilihatnya sang Ibunda pucat pasi menahan diri agar tidak pingsan di sisi kepalanya. Bahunya berguncang pelan menyembunyikan isak. Jemarinya gemetar mengelus bagian kepala Samudra yang masih terbuka.

"Yang sabar ya, Ibunya Samudra," hibur seorang pelayat sambil pelan mengelus tangannya.

"Yang aku sesalkan, Samudra belum sempat memperbaiki shalat dan ibadahnya yang lain, tapi sudah keburu dipanggil," jawab Ibu Samudra.

"Kita doakan saja semoga Samudra tenang disisi-Nya, dan diampuni semua dosanya," sahut seorang pelayat lain.

"Bagaimana aku bisa tenang? Ajalku sudah menjemput sedangkan aku belum menyelesaikan semua urusanku? Bisakah kalian mengerti itu?" Samudra memekik tanpa suara di telinga para pelayat yang sedang menasehati dan menghibur ibunya.

"Nanti selanjutnya yang jemput si Upik sekolah siapa, Bu?"

"Sementara ya saya, sambil diajari biar bisa pulang sendiri."

"Lha, apa ndak bahaya masih kecil begitu?"

"Semoga tidak apa-apa."

"Trus, yang anter kue ke warung saya siapa?"

"Saya nanti yang anter, Bu."

"Lha yang bikin kuenya siapa?"

"Ya saya juga."

"Walah-walah, semua Ibu sendiri yang ngerjain? Apa mampu? Wong badan sudah sakit-sakitan begitu."

"Ndak apa-apa, Bu. Semoga mampu."

Samudra semakin menyesali kematiannya, berlari ke sana ke mari, lalu jatuh bersimpuh, memohon agar Tuhan mendengar permintaannya.

"Ya Tuhanku, aku belum berbicara panjang lebar dengan Bundaku, bahkan aku belum sempat mencium kaki dan memohon ampunannya atas semua kenakalanku," ucapnya, lalu tangannya terulur ingin menjamah ujung kain ibunya, lagi-lagi tak sampai. "Oh Ibu, ampuni segala kesalahan putramu ini."

Tapi, ibunya tak mendengarnya, dan Samudra tahu itu. Terkulai putus asa Samudra di hadapan ibunya yang tak berkedip memandangi jenazahnya.

"Betapa sepanjang usia aku selalu membuatmu mengelus dadamu yang kerempeng itu Ibu, ampuni aku. Kau korbankan semua demi aku, tapi aku lebih menyia-nyiakannya daripada mensyukurinya. Bahkan aku belum pernah membuatnya tersenyum bahagia."

Samudra menggeliat, meronta ingin melepaskan diri dari balutan kain kafan, tapi tubuhnya terlalu kaku dan mengejang. Dalam erangan putus asa, makin banyak dilihatnya yang belum dia selesaikan. Adiknya kebingungan mencari jalan pulang dari sekolahnya, kepala kecilnya mencari kesana kemari, siapa gerangan yang menjemputnya, matanya pun mulai dibalut genangan penuh ketakutan.

“Oh, Upik adikku tersayang, maafkan kakakmu yang tidak bertanggung jawab ini."

Sementara itu, kue-kue Ibunya belum diantarkannya ke warung. Padahal dari kue-kue itulah biaya hidup mereka, sekolah si Upik dan kuliahnya bergantung. Tapi, kue-kue itu telah membusuk sekarang. Karena ibunya tak mampu lagi menahan lelah, dan jatuh sakit. Tugas-tugas para dosen tak satu pun diselesaikannya, bahkan sajadahnya masih terlipat rapi, harum belum pernah disentuhnya.

Tiba-tiba sosok menyeramkan entah malaikat maut atau apapun itu datang menghampirinya, mengayunkan tongkatnya dan menghardiknya dengan keras, "Banyak sekali yang belum kau selesaikan dan engkau sudah berada di sini! Pergilah dan selesaikan urusanmu!"

Samudra merasa tubuhnya dilempar dari tempat yang sangat tinggi. Dilihatnya tebing jurang, tapi tangannya tak dapat menggapai karena balutan kain kafan yang sangat kencang membungkus tubuhnya. Sedetik kemudian tubuhnya terguncang keras seperti ada yang memukul. Matanya semakin melebar dan masih tetap sama, yang dilihatnya Ibunya sedang mengguncang-guncang badannya

"Bangun, Samudra, ayam tetangga sudah mulai sibuk berkokok. Sudah berapa kali Ibu membangunkanmu, Nak."

Seketika Samudra melompat. Badannya terjungkal dengan keras di lantai karena lilitan selimut membungkus hampir seluruh tubuhnya. Dilepasnya selimut itu, diciumnya tangan ibunya, bersujud di kakinya, lalu melesat ke kamar mandi.

"Samudra. Ada apa denganmu, Nak? Kenapa melihat Ibu seperti melihat hantu saja?" Ibu Samudra mengejar ke kamar mandi, tapi pintu sudah keburu ditutup.

"Ampun Ibu, apakah aku masih sempat Shalat Subuh?" tanya Samudra dari balik pintu.

"Ya masih Nak, lha wong bedug baru bunyi. Ibu bangunkan kamu lebih awal karena hari ini kamu ujian dan masuk pagi, toh?" jawab ibunya sambil terheran-heran.

"Iya Bu, aku tahu aku harus kuliah, tapi aku mau Shalat Subuh dulu."

"Ooo…." Ibunya melongo.

"Nanti sehabis ujian aku akan langsung menjemput Upik, Bu."

"Ya, benar."

"Dan, sore aku akan mengantar kue ke warung. Ibu tenang saja, semua pasti beres."

Ibu Samudra tak bisa menjawab lagi, terheran-heran memandang pintu kamar mandi. Beberapa saat kemudian Samudra keluar dari kamar mandi dengan wajah segar.

"Ibu, doakan aku agar bisa menjadi anak yang shaleh dan bertanggung jawab, ya."
Ibu Samudra hanya mengangguk ragu-ragu sambil memandangi putranya bersiap, mengambil sajadah, lalu mencium tangannya.

"Aku akan ke surau dulu, Bu." Samudra kembali mencium tangan ibunya, lalu keluar dari kamarnya sambil bersenandung kecil. Ibunya terkesima memandangi putranya berlalu. Sedetik kemudian senyum bahagia terkembang dari bibirnya yang keriput dan pucat.

"Alhamdulillah, syukurlah kalau kamu sudah mengerti, Nak. Jadi Ibu tidak usah lagi menyebutkan satu per satu tugasmu."

Kepala Samudra melongok di pintu, "Ibu, mulai besok tolong ingatkan aku untuk selalu memasang jam beker agar aku tidak bangun kesiangan lagi dan menyusahkan Ibu."

Samudra berjalan dengan ringan menuju surau di belakang rumahnya. Diselipkannya sedikit kalimat dalam hatinya, "Aku akan segera menyampaikan pada Ratnaku bahwa aku sangat dan sangat mencintainya, sebelum mimpiku itu berubah menjadi kenyataan."

Doa di sepertiga malam, Kit Rose

:: :: ::
Aku dikebiri oleh waktu, napsu, dan inginku. Halaman tentang hidup dan mati koyak, terbuang dari ingatan, membawa langkah gontai kian rapuh. Meja makan itu penuh kudapan, tapi aku menjadi lelah, karena lupa mensykurinya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar