Lagu sendu dan sunyi mengaum
gelisah
temani tubuh kekarku tekuni
jalanan bisu
tandas dan tuntas berjuta
tanya tersembur
tandas dan tuntas berjuta
ingin terhambur
menerobos mendung dan kabut
tanpa warna
Aku bertanya
pada siapa kuhendak bertanya
dan mengadu?
Angin terbahak
berdesir sinis dan kering
padaku
ada bincang-bincang tak imbang
Halaman tentang mengupas diri
rupanya belum usai
banyak duri mengoyak jubahku
kelak kan kubasuh dengan darah
biruku
Hai aku,
tersenyumlah
bersujudlah
Cinta ingin hadir untukmu
~~
"Bu! Buka pintu!"
Samudra menggedor pintu dengan keras. Badannya
yang limbung disandarkannya di pintu sambil terus menggedor dan berteriak
dengan nyaring. Minuman keras membuatnya tidak sadar bahwa suaranya dan pukulan
di pintu amat keras, hingga bisa didengar oleh tetangga yang sedang bermimpi
sekalipun.
"Ibu! Aku dobrak nih,
pintu!" teriak Samudra lagi.
Ibunya tergopoh-gopoh,
berjalan setengah berlari ke arah pintu. Nyawanya belum sepenuhnya menyatu
dengan tubuhnya, setengah sadar dibukanya pintu dengan tangan gemetar karena
terkejut.
"Lama banget, sih!"
bentak Samudra sambil menerobos ke dalam rumah.
Aroma minuman keras murahan
menyeruak dan menyebar ke seluruh ruangan, membuat Ibunya sedikit menjauh dan
menutup hidung. Hatinya mengalunkan istighfar, memohon ampunan untuk putranya
tercinta, lalu kembali menutup pintu rumah dan masuk kamarnya diam-diam. Duduk
di tepi pembaringan, dihapusnya air mata yang telah melenyapkan rasa kantuk,
sambil menatap foto usang suaminya yang tergantung di dinding kamar dengan
tenang.
"Apa lagi yang harus
kulakukan pada anakmu itu, suamiku? Kenapa kau biarkan aku berjuang sendiri?
Apakah di sana engkau melihat semua yang terjadi di sini?"
Perlahan perempuan itu
merebahkan tubuhnya yang kurus di pembaringan. Matanya menerawang jauh, mencari
bayangan suaminya, untuk menyusun sedikit kekuatan. Pikirannya tak lepas dari
putra sulungnya yang belakangan lebih sering pulang hampir pagi dan dalam
keadaan tidak sadar. Bayangan bahwa putranya itu kelak lulus kuliah dengan
gelar insinyur perlahan menjauh dari angannya. Harapan bahwa Samudra kelak dapat
mengangkat kembali derajat hidup mereka seperti sedia kala, seolah semakin
menjauh. Ibu Samudra tak dapat memejamkan mata lagi sampai suara ayam tetangga
memanggilnya untuk segera memulai kegiatannya. Kegiatan rutin yang semakin hari
semakin membuatnya dihinggapi keraguan akan keberhasilannya mengantar kedua
anaknya pada masa depan masing-masing.
"Samudra, bangun, Nak.
Hari sudah siang," kata Ibu Samudra dengan suara lembut, selembut
pengorbanannya yang mengikis ceria dan kemudaannya perlahan.
Berulang kali
digoyangnya tubuh sang anak yang masih terbungkus selimut tebal melenakan itu.
Samudra menggeliat dengan malas, duduk dengan malas pula, lalu memandang ibunya
dengan kesal.
"Ada apa sih, Bu. Aku
masih ngantuk!" Samudra kembali meringkuk di
bawah selimut. Hatinya ingin mengatakan bahwa dia sedang menikmati tidur, dan
masih ingin lebih lama menikmatinya, seolah nanti tiada waktu lagi tersisa
untuk tidurnya.
"Bangun, Nak. Kamu sudah
melewatkan Subuh. Sekarang bangun dan siap-siap berangkat kuliah."
"Samudra capek, Bu. Hari
ini nggak masuk kuliah."
"Kemaren kamu sudah nggak
masuk. Kalau hari ini nggak masuk lagi, mau dapat apa kuliahmu itu. Ayo, sana
mandi." Ibu Samudra duduk di tepi tempat tidur. Ditariknya selimut Samudra
perlahan, "Ayolah, Nak, kaki Ibu rasanya sudah mulai pegal bolak-balik ke
sini membangunkanmu."
"Ya sudah, kenapa Ibu
masih ke kamar Samudra lagi?"
"Kamu harus bersiap
sekarang, nanti pulang kuliah jemputlah adikmu si Upik. Jangan terlambat lagi
seperti kemaren, kasihan dia."
"Terus, sorenya langsung
mengantar kue ke warung? Terus apa lagi, Bu? Apa lagi daftar tugas untuk
Samudra?"
"Lalu, Ibu harus minta
tolong siapa lagi, Nak. Sejak ayahmu meninggal tidak ada lagi yang membiayai
kehidupan kita. Satu-satunya harapan kita ya kue-kue itu."
Samudra melempar selimutnya
dan melangkah keluar kamar dengan wajah bersungut-sungut menahan kesal. Tak
dipikirkannya bagaimana perasaan sang Ibu menerima perilakunya yang bagai tak
pernah mengenal kasih ibu. Untuk membangunkan mimpinya yang masih bergelayut
dihirupnya kopi yang sudah tersedia di meja makan. Kemalasannya sungguh tak
dapat merasakan, betapa nikmat kopi yang sudah tersedia di pagi hari, tanpa
harus repot-repot menyeduhnya dulu.
Terlampau jauh dari rasa
syukur, Samudra duduk di ruang tengah sambil menyalakan rokok. Dinyalakannya
televisi sambil merebahkan kembali tubuhnya yang kumal di kursi panjang berdebu
dan usang. Ibunya mengelus dada melihat tingkah anaknya. Dihampirinya anak itu,
lalu duduk di sampingnya. Kelembutannya tak juga sirna oleh rasa kecewa dan
murka yang dideritanya. Kasih sayangnya tak terhapus oleh kerasnya perjuangan
mendidik sang jabang bayi yang sudah bertumbuh usianya.
"Kamu yang sabar ya, Nak.
Nanti kalau kamu sudah lulus kuliah, carilah pekerjaan yang cukup
penghasilannya, biar tidak hidup seperti ini terus."
Samudra mendengus, "Tiap
hari itu terus yang Ibu katakan."
"Memang itu cita-cita dan
harapan Ibu. Tiap malam Ibu selalu berdoa agar kamu dan Upik kelak hidup
bahagia. Makanya Ibu tak kenal lelah berjualan kue. Tugasmu cuma
mengantarkannya, karena adikmu masih kecil dan belum bisa ditinggal."
"Tumpukan keranjang
berisi kue-kue Ibu itu berat, makanya harus Samudra yang mengantarkan. Begitu
kan, Bu?"
Samudra seperti tak mau lagi
melumuri telinganya dengan mendengar kalimat-kalimat jawaban ibunya
selanjutnya, segera beranjak berdiri, mengambil handuk dan masuk kamar mandi.
Di sana dia akan merasa aman dari sumber-sumber dan jalan kehidupan yang
disebutnya sebagai petuah usang sang Ibu. Ibu Samudra kembali mengelus dadanya
dan berlalu ke dapur, kemudian bergelut memperjuangkan hasil yang sempurna
untuk kue-kuenya. Diiringi doa tiada putus, diolahnya kue-kue itu bertabur dengan
syukur pada Sang Maha Adil. Tak lupa diselipkannya doa agar putra tercintanya
berubah dan tumbuh menjadi manusia yang layak.
~
"Sam, kamu ini gimana
toh, runtang-runtung sama si Ratna, tapi ndak jelas pacaran apa ndak,"
kata Jamal seusai kuliah.
"Siapa bilang kami
pacaran?" jawab Samudra sambil menyisir rambutnya yang seperti tidak
pernah bersisir itu dengan tangannya.
"Lho, jadi kamu itu ndak
suka toh sama Ratna? Ndak cinta?"
"Emang kenapa?"
"Lha, kalau kamu ndak
cinta sama dia, ya biar aku saja yang bilang cinta sama dia. Wong aku itu
tertarik sama dia sudah lama, lho."
"Emang kamu berani?"
"Kalau rasa ini sudah
mendesak, ya berani saja, Sam."
Samudra menghentikan langkah
dan menarik kerah Jamal, lalu berkata dengan raut serius, "Kamu berani
macam-macam, tak potong lehermu!"
"Lho, kok jadi marah?
Tadi katanya ndak mau dibilang pacaran. Sekarang kok, marah? Berarti kamu itu
cinta sama dia," tangkis Jamal sambil melepaskan tangan Samudra dari
kerahnya. Tawanya berderai, merasa pancingannya mengenai sasaran. Samudra
memerah mukanya, merasa jendela hatinya sedikit terbuka oleh sahabatnya.
"Emang kalau orang
pacaran harus bilang cinta toh, Mal?"
"Lha iya, toh. Harus itu.
Biar pasti. Dan, si Ratna juga ndak ragu-ragu mau menganggap kamu itu
apa."
"Kalau ditolak,
bagaimana?"
"Ya ndak mungkin. Masa
hatimu buta. Tiap kamu dekati dan ajak dia ngobrol, keliatan senang banget
gitu. Ditambah tersipu-sipu. Terus, temen-temen pria yang lain ndak digubris
lagi. Itu tandanya dia suka sama kamu."
Samudra berpikir sebentar,
"Tapi, aku kan belum kerja, kuliah aja masih separoh waktu."
Jamal tergelak, "Lha
emangnya kamu mau kawin? Cuma bilang cinta saja kok nunggu kuliah selesai dan
kerja."
"Jadi?"
"Ya, bilang cinta saja
dulu, terus resmi pacaran. Habis itu biar Allah yang ngatur. Kamu tinggal
menjalani saja. Orang kawin itu kan ada prosesnya, Sam. Kalau kalian memang
jodoh kan, akan seterusnya berjalan."
Samudra tidak menjawab, diam
ditelan bisu. Kembali kemalasannya tidak mau membiarkannya berpikir sejenak.
Digaruknya kepala yang tidak gatal, ditendangnya kerikil yang diam tidak
mengganggu, dipetiknya kuncup mawar yang sedang ingin mekar, lalu dilemparnya
begitu saja ke tepian jalan berdebu.
Jamal menyenggol lengannya,
"Gimana?"
"Entahlah. Malas aku
mikirin itu."
~
Sore hari, Ibu Samudra kembali
menemukan anaknya sedang meringkuk di bawah selimut. Wanita tua itu menghela
napas berat. Matanya sayu memandangi anaknya, lalu kembali ke dapur dengan
langkah lelah. Diangkatnya kue-kue yang sudah tersusun rapi di keranjang.
"Ibu mau ke mana?"
tanya Upik.
"Mau mengantar kue ke
warung, Sayang. Upik di rumah, ya."
"Ikut," jawab si
kecil langsung memegangi kain ibunya.
"Ya sudah, tapi nggak
boleh gendong dan minta jajan, ya."
Si kecil mengangguk dengan
patuh sambil tersenyum lebar. Ibu Samudra menggendong keranjang kue sambil
menuntun si kecil berjalan keluar dari rumah dengan tertatih-tatih. Kaki tuanya
menapaki jalanan kecil berkelok menuju beberapa warung yang tiap hari dititipinya
kue. Sebentar-sebentar wanita itu berhenti untuk membetulkan gendongannya.
Pundaknya yang sudah turun kini semakin turun oleh beban yang mungkin lebih
berat dari tubuhnya sendiri.
Si kecil yang tiba-tiba bisa
bersikap manis seperti keinginan ibunya bertanya, "Berat ya, Bu?"
Ibunya mengangguk, lalu
tersenyum menenangkan hati putrinya yang sudah mencoba menghibur dan menambah
kekuatannya untuk meneruskan langkah yang semakin berat.
~
Samudra tertegun. Tiba-tiba
tubuhnya terasa kaku dan dingin. Padahal tubuhnya memang sedang terbujur kaku
dan dingin dalam bungkusan kain putih seputih jiwanya saat pertama kali
mendapat haknya mencicipi nikmatnya udara segar. Jantungnya bagai berhenti
berdetak. Padahal jantung itu memang sudah berhenti berdetak sejak dia dimandikan
bersama alunan doa mengiris jiwa.
Orang-orang berkumpul
mengelilingi jenazah yang baru selesai dimandikan. Jenazah Samudra. Sebagian
ada yang menangis. Ada juga yang berwajah datar-datar saja. Dan, ada yang
berbisik-bisik dengan pelayat yang duduk bersebelahan.
"Padahal Samudra itu
harapan ibunya setelah ayahnya meninggal," kata seorang Ibu.
"Hayah, harapan apa?
Disuruh anterin kue ke warungku saja ibunya kudu ngrayu-ngrayu dulu,"
jawab Ibu sebelahnya.
"Iya, mana adiknya, si
Upik itu, masih kecil, ya," sahut yang lain.
"Kasihan ibunya Samudra.
Siapa lagi nanti yang bantuin dia."
"Jualan kue mati-matian
untuk biaya kuliah Samudra, malah hasilnya mayat terbujur kaku begini."
"Kuliahnya juga malas!
Pernah saya lihat ibunya sampai nangis gara-gara si Samudra itu malas
kuliah!"
"Saya sudah pernah
nasehatin ibunya Samudra agar tidak usah nurutin kemauan anak itu untuk kuliah,
tapi ngeyel."
"Mana belum nikah,
ya."
"Jangankan nikah, pacar
saja dia belum punya."
"Siapa yang mau sama anak
pemalas kayak gitu? Malas bantu ibunya, malas kuliah, malas shalat pula!"
Samudra tertunduk penuh sesal
mendengar pembicaran itu. Semua yang dikatakan ibu-ibu itu benar adanya. Kalau
sudah begini, apa yang bisa diperbuatnya? Dilihatnya sang pujaan hati juga ikut
menangis pilu di samping jenazahnya. Tak dipedulikannya pandangan para pelayat
lain yang terheran-heran, siapa gerangan gadis tak dikenal yang sedang menangis
di depan jenazah Samudra itu?
"Eh, itu si Ratna datang
juga melayat," bisik salah satu teman kuliah Samudra di ujung ruangan.
"Iya. Kasihan ya, belum
sempat pacaran sudah ditinggal," balas teman Samudra yang lain.
"Padahal sebenarnya
mereka sama-sama saling cinta."
"Samudra memang nggak
pernah serius orangnya. Meremehkan semua persoalan. Dasar gemblung!"
"Kemaren Samudra
dipanggil Pak Saman untuk ujian ulang juga nggak ngreken. Nilainya amburadul
semua tuh anak."
"Gimana mau dapat nilai
bagus, lha wong kuliah saja jarang masuk."
Samudra berlari, lalu
berteriak di balik pintu, "Ya Tuhanku, aku belum menyelesaikan urusanku
dengan pujaan hatiku, kenapa aku sudah berada di garis pengadilan-Mu?" Tangannya terulur hendak
membelai rambut sang kekasih, tapi tak sampai. "Bahkan aku belum
mengatakan cinta padanya."
Bibir Samudra bergetar,
mendesis penuh sesal. Dilihatnya sang Ibunda pucat pasi menahan diri agar tidak
pingsan di sisi kepalanya. Bahunya berguncang pelan menyembunyikan isak.
Jemarinya gemetar mengelus bagian kepala Samudra yang masih terbuka.
"Yang sabar ya, Ibunya
Samudra," hibur seorang pelayat sambil pelan mengelus tangannya.
"Yang aku sesalkan,
Samudra belum sempat memperbaiki shalat dan ibadahnya yang lain, tapi sudah
keburu dipanggil," jawab Ibu Samudra.
"Kita doakan saja semoga
Samudra tenang disisi-Nya, dan diampuni semua dosanya," sahut seorang
pelayat lain.
"Bagaimana aku bisa
tenang? Ajalku sudah menjemput sedangkan aku belum menyelesaikan semua
urusanku? Bisakah kalian mengerti itu?" Samudra memekik tanpa suara di
telinga para pelayat yang sedang menasehati dan menghibur ibunya.
"Nanti selanjutnya yang
jemput si Upik sekolah siapa, Bu?"
"Sementara ya saya,
sambil diajari biar bisa pulang sendiri."
"Lha, apa ndak bahaya
masih kecil begitu?"
"Semoga tidak
apa-apa."
"Trus, yang anter kue ke
warung saya siapa?"
"Saya nanti yang anter,
Bu."
"Lha yang bikin kuenya
siapa?"
"Ya saya juga."
"Walah-walah, semua Ibu
sendiri yang ngerjain? Apa mampu? Wong badan sudah sakit-sakitan begitu."
"Ndak apa-apa, Bu. Semoga
mampu."
Samudra semakin menyesali
kematiannya, berlari ke sana ke mari, lalu jatuh bersimpuh, memohon agar Tuhan
mendengar permintaannya.
"Ya Tuhanku, aku belum
berbicara panjang lebar dengan Bundaku, bahkan aku belum sempat mencium kaki
dan memohon ampunannya atas semua kenakalanku," ucapnya, lalu tangannya
terulur ingin menjamah ujung kain ibunya, lagi-lagi tak sampai. "Oh Ibu, ampuni segala kesalahan
putramu ini."
Tapi, ibunya tak mendengarnya,
dan Samudra tahu itu. Terkulai putus asa Samudra di hadapan ibunya yang tak
berkedip memandangi jenazahnya.
"Betapa sepanjang usia
aku selalu membuatmu mengelus dadamu yang kerempeng itu Ibu, ampuni aku. Kau
korbankan semua demi aku, tapi aku lebih menyia-nyiakannya daripada
mensyukurinya. Bahkan aku belum pernah membuatnya tersenyum bahagia."
Samudra menggeliat, meronta
ingin melepaskan diri dari balutan kain kafan, tapi tubuhnya terlalu kaku dan
mengejang. Dalam erangan putus asa, makin banyak dilihatnya yang belum dia
selesaikan. Adiknya kebingungan mencari jalan pulang dari sekolahnya, kepala kecilnya
mencari kesana kemari, siapa gerangan yang menjemputnya, matanya pun mulai
dibalut genangan penuh ketakutan.
“Oh, Upik adikku tersayang,
maafkan kakakmu yang tidak bertanggung jawab ini."
Sementara itu, kue-kue Ibunya
belum diantarkannya ke warung. Padahal dari kue-kue itulah biaya hidup mereka,
sekolah si Upik dan kuliahnya bergantung. Tapi, kue-kue itu telah membusuk
sekarang. Karena ibunya tak mampu lagi menahan lelah, dan jatuh sakit.
Tugas-tugas para dosen tak satu pun diselesaikannya, bahkan sajadahnya masih
terlipat rapi, harum belum pernah disentuhnya.
Tiba-tiba sosok menyeramkan
entah malaikat maut atau apapun itu datang menghampirinya, mengayunkan
tongkatnya dan menghardiknya dengan keras, "Banyak sekali yang belum kau
selesaikan dan engkau sudah berada di sini! Pergilah dan selesaikan
urusanmu!"
Samudra merasa tubuhnya
dilempar dari tempat yang sangat tinggi. Dilihatnya tebing jurang, tapi
tangannya tak dapat menggapai karena balutan kain kafan yang sangat kencang
membungkus tubuhnya. Sedetik kemudian tubuhnya terguncang keras seperti ada
yang memukul. Matanya semakin melebar dan masih tetap sama, yang dilihatnya
Ibunya sedang mengguncang-guncang badannya
"Bangun, Samudra, ayam
tetangga sudah mulai sibuk berkokok. Sudah berapa kali Ibu membangunkanmu,
Nak."
Seketika Samudra melompat.
Badannya terjungkal dengan keras di lantai karena lilitan selimut membungkus
hampir seluruh tubuhnya. Dilepasnya selimut itu, diciumnya tangan ibunya,
bersujud di kakinya, lalu melesat ke kamar mandi.
"Samudra. Ada apa
denganmu, Nak? Kenapa melihat Ibu seperti melihat hantu saja?" Ibu Samudra mengejar ke kamar mandi, tapi pintu sudah keburu ditutup.
"Ampun Ibu, apakah aku
masih sempat Shalat Subuh?" tanya Samudra dari balik pintu.
"Ya masih Nak, lha wong
bedug baru bunyi. Ibu bangunkan kamu lebih awal karena hari ini kamu ujian dan
masuk pagi, toh?" jawab ibunya sambil terheran-heran.
"Iya Bu, aku tahu aku
harus kuliah, tapi aku mau Shalat Subuh dulu."
"Ooo…." Ibunya
melongo.
"Nanti sehabis ujian aku
akan langsung menjemput Upik, Bu."
"Ya, benar."
"Dan, sore aku akan
mengantar kue ke warung. Ibu tenang saja, semua pasti beres."
Ibu Samudra tak bisa menjawab
lagi, terheran-heran memandang pintu kamar mandi. Beberapa saat kemudian
Samudra keluar dari kamar mandi dengan wajah segar.
"Ibu, doakan aku agar
bisa menjadi anak yang shaleh dan bertanggung jawab, ya."
Ibu Samudra hanya mengangguk
ragu-ragu sambil memandangi putranya bersiap, mengambil sajadah, lalu mencium
tangannya.
"Aku akan ke surau dulu,
Bu." Samudra kembali mencium tangan ibunya, lalu keluar dari kamarnya
sambil bersenandung kecil. Ibunya terkesima memandangi putranya berlalu.
Sedetik kemudian senyum bahagia terkembang dari bibirnya yang keriput dan
pucat.
"Alhamdulillah, syukurlah
kalau kamu sudah mengerti, Nak. Jadi Ibu tidak usah lagi menyebutkan satu per
satu tugasmu."
Kepala Samudra melongok di
pintu, "Ibu, mulai besok tolong ingatkan aku untuk selalu memasang jam
beker agar aku tidak bangun kesiangan lagi dan menyusahkan Ibu."
Samudra berjalan dengan ringan
menuju surau di belakang rumahnya. Diselipkannya sedikit kalimat dalam hatinya,
"Aku akan segera menyampaikan pada Ratnaku bahwa aku sangat dan sangat
mencintainya, sebelum mimpiku itu berubah menjadi kenyataan."
Doa di sepertiga malam, Kit
Rose
:: :: ::
Aku dikebiri oleh waktu,
napsu, dan inginku. Halaman tentang hidup dan mati koyak, terbuang dari
ingatan, membawa langkah gontai kian rapuh. Meja makan itu penuh kudapan, tapi
aku menjadi lelah, karena lupa mensykurinya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar