"Masalah dan rejeki datangnya beriringan. Itulah makna dari hidup. Kalau kita dapat menerima nikmat dengan lesung pipi, maka kita harus memahami gejolak dan masalah dengan kerendahan hati.” ~ Kit Rose
Itu adalah sepenggal kalimat yang saya kutip dari buku “Melukis Langit” karya salah satu kawan saya, Kit Rose. Melukis langit adalah sebuah pembuka dari empat rangkaian cerita yang menyatu dalam sebuah tetralogi.
Saya melihat, ‘Melukis Langit’ merupakan perpaduan unsur filsafat dan karya sastra. Penulisnya mampu meracik kata dan mengerucutkan pemikiran agar setiap manusia berpasrah kepada Sang Khalik apapun keadaan yang sedang dihadapinya. Berikut saya kutipkan sebuah puisi yang mengawali cerita di bagian empat.
ketika alunan takbir berkumandang
aku masih melawan badai
mencari tempat berpijak
untuk bimbang menggiring hati
dan di sana Dia masih menatap dengan lukisan-Nya
memanggilku untuk meletakkan lelah
Kit Rose mampu menyajikan cerita yang hidup dengan menampilkan sosok kontradiktif dalam diri tokoh utamanya, Puniawati. Lemah sekaligus kuat. Sang tokoh utama digambarkan sebagai seorang perempuan yang nrimo dengan kehendak yang telah dilukiskan-Nya. Kepasrahan Puniawati seolah menggambarkan bahwa Puniawati adalah sosok yang lemah. Namun, kepasrahan demi kepasrahan itu sesungguhnya merupakan perwujudan tentang betapa kuatnya sosok Puniawati menghadapi ujian dan cobaan yang datang silih berganti dalam kehidupannya.
Ya, banyak cobaan yang akhirnya berhasil dilalui sosok Puniawati. Mulai dari masalah rumah tangga dengan suaminya, Hendra. Masalah keterpurukan ekonomi keluarga yang hampir menjerumuskannya ke dunia narkoba. Ketidakberpihakan keluarga suami terhadapnya. Hingga masalah cinta lain yang mengisi hatinya. Puniawati berhasil melalui itu semua dengan cara berpasrah kepada Tuhan YME.
Melukis Langit, saya kira adalah genre baru dalam sebuah karya sastra. Selain tersirat filsafat keber-Tuhan-an, novel ini sarat dengan makna kehidupan. Ada unsur-unsur rasionalitas yang kentara di dalamnya, yang berbalut dengan unsur irrasional.
Masalah kehidupan, rumah tangga, ekonomi, adalah masalah-masalah rasional yang sering kita hadapi dalam kehidupan. Puniawati digambarkan begitu membumi dengan mengalami masalah-masalah yang sering kita hadapi. Irrasionalitas tergambar dalam diri Puniawati yang seolah-olah bisa membaca masa depan meskipun sebenarnya Puniawati tidak pernah tahu apa makna ‘bayangan hitam’ yang sering dia lihat itu.
“Kamu mimpi apa lagi, Nini?”
“Aku nggak jadi berangkat, Mas.”
“Maksudnya apa? Kenapa Nggak berangkat?”
“Aku nggak tahu, tapi aku sudah ke sana, ke Perkebunan itu.”
“Dalam mimpi?"
“Entahlah. Aku sendiri tidak mengerti apa yang sebenarnya aku alami, tapi tiga hari berturut-turut aku berada di sana. Memanjat tangga kayu licin, memetik plum, kedinginan, kehausan, sendiri.” Lalu Puniawati menunjukkan luka-luka kecil di tangannya karena sayatan dan goresan dari ranting-ranting pohon plum.
Sepenggal dialog antara Puniawati, yang kerap dipanggil Nini, bersama suaminya Hendra, menyiratkan tentang unsur irrasional yang dialami Puniawati. Puniawati bermimpi tentang sesuatu yang akan dialaminya jika dia berkeras menjalankan tawaran teman-temannya yang ingin menjerumuskannya ke dunia hitam. Dan berkat ‘sesuatu’ yang memberi tahunya itu, Puniawati terhindar dari masalah.
Memang, unsur irrasional yang dialami Puniawati ini tidak banyak dimiliki orang. Hanya orang tertentu saja yang mendapatkan ‘gift’ ini dari Tuhan. Jadi mungkin akan ada semacam kejanggalan jika Anda membaca buku ini hanya dengan menggunakan mata fisik. Apalagi dengan mata terpejam.
Mata hati dan pikiran diperlukan untuk menyingkap makna tersirat yang disisipkan penulisnya sebagai pesan moral untuk para pembacanya. Pencernaan kata demi kata tersirat mengukuhkan bahwa cerita ini bukanlah sembarang cerita. Ada kekuatan karakter Puniawati yang bisa menjadi inspirasi para pembaca. Terutama kaum perempuan yang saat ini masih diposisikan sebagai mahluk yang lemah. Sesungguhnya perempuan itu mahluk yang sangat kuat melebihi laki-laki. Perempuan bermain dengan perasaan untuk menutupi kekuatan itu.
"Buku ini layak untuk diapresiasi dengan cara membelinya. Anda akan rugi jika tidak membacanya. Di balik kesederhanaan cerita, terkandung kekuatan makna yang bisa dipelajari dalam meniti hidup dan kehidupan. Cinta itu tak harus memiliki. Pengorbanan adalah sebuah keutamaan ketika cinta tak dapat dipersatukan dalam sebuah harmoni hubungan. Menjadi perantara Tuhan untuk melukis langit adalah sebuah keniscayaan yang akan memberi bahagia karena telah mempersatukan orang-orang yang dicintainya." ~ HS
Kakimanangel, 07122010
Good writer and editor wanna be. Find me and what I was writing on those books and your black coffee
Tampilkan postingan dengan label Resensi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Resensi. Tampilkan semua postingan
Minggu, 10 Maret 2013
Selasa, 18 Desember 2012
Novel Melukis Langit Bukan Horor
“Dari tiada menjadi ada dan dari ada akan kembali menjadi tiada” – Kit Rose (Melukis Langit)
Sebuah kutipan yang cukup manis, bukan? Tentu saja semanis saat Anda menyelesaikan membaca buku ini. Saya tipikal orang yang saat membaca sesuatu yang menarik perhatian, maka akan saya selesaikan saat itu juga. Dan buku ini telah menyita perhatian saya selama dua jam untuk membaca setiap untaian kata yang ditulis oleh Bu Kit.
Benar-benar sebuah buku yang cukup menguras emosi. Ada bagian di mana kita terenyuh, tersenyum, kesal, takut, bahkan marah saat membacanya. Bisakah Anda membayangkan bagaimana rasanya? Heheee..baca aja bukunya biar tahu gimana rasanya.
Oh ya, sejak awal tahu tentang buku ini, saya banyak mendengar ada yang mengatakan “ini bukan buku horror”. Ya, memang ini bukan buku horor, tapi ada bagian horornya. Serius!!! Bu Kit benar-benar ahli dalam hal ini.
Suasana mencekam yang tercipta dari rangkaian kalimat yang dituangkannya, benar-benar nyata terasa, terutama untuk orang penakut (pada hal-hal semacam yang ditulis di buku ini) seperti saya, heheheee… Tapi inilah yang menurut saya, menjadi sesuatu yang membedakan antara novel ini dengan novel-novel yang lain.
Novel Melukis Langit ini menceritakan tentang perjalanan hidup (tepatnya sebagian perjalanan hidup) seorang Nini Puniawati, pergulatan batinnya sebagai seorang perempuan dengan banyak peran (sebagai istri, ibu, dan tentu saja sebagai seorang wanita normal yang membutuhkan kasih sayang dari orang-orang yang dicintainya). Kita dapat belajar banyak hal dari novel ini. Tentang Nini Puniawati yang berkarakter seperti kisah-kisah “the true” perempuan-perempuan Jawa yang sering dikisahkan guru PKK saya semasa SMP.
Bagaimana ia berusaha menjaga kehormatan suaminya dan berkali-kali melindunginya dari bahaya yang mengancam, meskipun suaminya seringkali menyakiti hatinya. Ia adalah seorang tokoh perempuan yang mampu senantiasa menjaga sikap tegar di depan orang-orang (terutama di depan anak-anaknya), meskipun dalam hati, batinnya terkadang harus menangis menahan perih saat melewati bagian kehidupannya yang berduri.
At last.. saya merekomendasikan Anda membaca buku ini. Terutama bagi Anda yang sangat menyukai bacaan-bacaan horor. Tapi bagi yang nggak suka bacaan horor, saya sarankan juga untuk membacanya karena banyak pelajaran menarik yang bisa kita petik dari novel ini. Tentang hidup.. Tentang sebuah grand design yang dirancang Tuhan untuk kita semua, yang hanya akan kita ketahui setelah menjalaninya.
Selamat berMinggu sore semua!!!.. ^_^
Dyah |19 December 2010 |
Senin, 10 Desember 2012
Jejak by Nadia Fadhillah
Ini buku hasil tukeran, barter
dengan penulisnya langsung, Mba Kit Rose. Oke, berikut review singkatnya.
Buku ini berisi kumpulan dua
belas cerpen tentang cinta dan sosok perempuan yang kuat dank eras. Semua perempuan
di masing-masing cerpen adalah sosok perempuan yang kuat, tegar dan tangguh. Jelas
sangat menginspirasi bahwa tidak semua wanita adalah makhluk yang lemah dan
mudah dipermainkan. Cerita tentang cintanya pun membuatku bisa melihat cinta
dari sudut pandang yang tidak biasa. Bagiku, cinta yang diceritakan adalah
cinta yang dewasa. Mengenai seorang wanita yang sudah berkeluarga, atau
wanita-wanita matang lainnya. Dunia cinta yang aku sama sekali belum pernah
membayangkan berada di posisi seperti itu.
Kekurangan kumpulan cerpen ini
adalah karakter pemeran utamanya yang hampir sama satu dengan yang lain. Ia sosok
itu, perempuan, kuat, tegar, tangguh, semuanya merokok, dan sebagainya. Meskipun
nama tokoh perempuan dalam tiap cerpen berbeda, namun kesamaan karakter membuat
aku hampir tidak bisa membedakan antara Puspa dengan Rose, misalnya.
Barangkali ini disebabkan
karena Kit Rose sendiri adalah seorang wanita yang memang berkarakter kuat dan
tangguh, sehingga karakter tokoh utama dalam tiap cerita memang merupakan sisi
dari sifat-sifat penulisnya sendiri.
Nadia Fadhillah
Dimuat di :
http://www.goodreads.com/review/show/442696132
Minggu, 09 Desember 2012
Melukis Langit, Kit Rose
Beberapa hari yang lalu seorang teman yang sangat saya hormati menawarkan saya untuk membaca sebuah novel karya seorang kompasianer, Mbak Kit Rose, yang berjudul Melukis Langit. Teman saya tersebut menganjurkan agar saya membaca novel tersebut tidak sambil tiduran, dan ketika saya membaca tanggapan seniman yang ada di belakang sampul novel menyarankan lagi untuk membaca novel tersebut dalam keadaan bugar.
Karena dasar pendapat teman saya dan seniman tersebut akhirnya saya mencoba membaca novel tersebut siang hari setelah makan siang dan setelah saya mengerjakan perbaikan tugas akhir saya yang cukup membebani beberapa bulan terakhir ini.
Saya mulai membaca novel tersebut dan jujur, dari awal cerita saya cukup tertarik dengan alur ceritanya. Sepanjang cerita saya suka tidak habis pikir bahwa ada orang yang berjiwa seperti NINI yang menurut saya sangat pengertian dengan suaminya – HENDRA yang saya sendiri saja yang membaca suka gemes melihat laki-laki tersebut. Dan saya salut buat keberhasilan NINI yang bisa menjaga kehormatan suaminya di mata anak-anaknya.
Dan, cerita tentang DIMAS dan NINI merupakan salah satu adegan cerita favorit saya, karena saya melihat kesadaran manusia yang begitu saling mencintai dan akhirnya sadar untuk tidak memaksa untuk bersatu karena mereka sudah berada di singgasana yang berbeda. Cinta yang tidak menyakiti, suci, dan tetap bisa dinikmati.
“Demi Cintaku yang indah ini, akan kujaga hatiku agar tak merebutmu dari singgasana cinta nun jauh di sana. Aku bahagia untuk bahagiamu, juga untuk pencarian panjang akan cinta, rindu, dan kehangatan. Aku telah lama berkelana dalam hitam mencarinya dan kini telah selesai. Aku tak ingin apapun selain bahagia dan ketenanganmu. Aku hanya ingin menanti Dia menjemputku.”
(melukis langit-Kit Rose).
NB: waiting for the next novel ya, Mbak
Phia Chan
| 13 December 2010 |
Langganan:
Postingan (Atom)
