Beberapa hari yang lalu seorang teman yang sangat saya hormati menawarkan saya untuk membaca sebuah novel karya seorang kompasianer, Mbak Kit Rose, yang berjudul Melukis Langit. Teman saya tersebut menganjurkan agar saya membaca novel tersebut tidak sambil tiduran, dan ketika saya membaca tanggapan seniman yang ada di belakang sampul novel menyarankan lagi untuk membaca novel tersebut dalam keadaan bugar.
Karena dasar pendapat teman saya dan seniman tersebut akhirnya saya mencoba membaca novel tersebut siang hari setelah makan siang dan setelah saya mengerjakan perbaikan tugas akhir saya yang cukup membebani beberapa bulan terakhir ini.
Saya mulai membaca novel tersebut dan jujur, dari awal cerita saya cukup tertarik dengan alur ceritanya. Sepanjang cerita saya suka tidak habis pikir bahwa ada orang yang berjiwa seperti NINI yang menurut saya sangat pengertian dengan suaminya – HENDRA yang saya sendiri saja yang membaca suka gemes melihat laki-laki tersebut. Dan saya salut buat keberhasilan NINI yang bisa menjaga kehormatan suaminya di mata anak-anaknya.
Dan, cerita tentang DIMAS dan NINI merupakan salah satu adegan cerita favorit saya, karena saya melihat kesadaran manusia yang begitu saling mencintai dan akhirnya sadar untuk tidak memaksa untuk bersatu karena mereka sudah berada di singgasana yang berbeda. Cinta yang tidak menyakiti, suci, dan tetap bisa dinikmati.
“Demi Cintaku yang indah ini, akan kujaga hatiku agar tak merebutmu dari singgasana cinta nun jauh di sana. Aku bahagia untuk bahagiamu, juga untuk pencarian panjang akan cinta, rindu, dan kehangatan. Aku telah lama berkelana dalam hitam mencarinya dan kini telah selesai. Aku tak ingin apapun selain bahagia dan ketenanganmu. Aku hanya ingin menanti Dia menjemputku.”
(melukis langit-Kit Rose).
NB: waiting for the next novel ya, Mbak
Phia Chan
| 13 December 2010 |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar