Jumat, 29 Mei 2020

Lelaki di Balik Layar


Terang benderang
kulihat
kala meniti sinar dari balik layar cinta

Aku berlari
tak ingin berhenti
menyongsong sapamu

Bagai bidadari
kujemput lembut mesramu
gemulai jari menari di sana
di atas para aksara

Lelaki di balik layar,
kau hapus hingga sirna seluruh sepiku
menari bersama dalam lautan kata
kita rangkai tanpa henti
sampai kusadar
ini sekedar mimpi penghias hari

~~

Arini duduk di depan meja rias, menatap dirinya di cermin dengan seksama. Diliriknya laptop di meja kerja, sekuat tenaga menahan diri untuk tidak membukanya. Malam ini kekasihnya akan datang berkunjung, mengisi malam yang sudah mulai terasa membosankan bagi Arini. Tak lama ponselnya berbunyi nyaring.

"Halo." Arini mengangkat ponselnya tanpa semangat.

"Aku Nggak jadi ke rumah ya, banyak tugas malam ini." Suara dari seberang.

Arini menghembuskan napasnya sejenak. Kebosanannya bertambah. Beberapa kali janji dibatalkan, tidak ada lagi sapa lembut, semua berjalan semakin wajar, bahkan menjadi dingin, membuat kebosanannya bertambah tebal terhadap hubungannya dengan sang kekasih. Matanya berhenti pada laptop yang belum menyala, menyembunyikan senyum sebelum menjawab dengan nada menyesal.

"Padahal aku sudah menunggu dari tadi."

"Aku benar-benar minta maaf."

"Baiklah, sampai bertemu besok di kantor, ya."

"Makasih atas pengertiannya, ya." Arini menjawab sewajarnya dan segera dimatikannya ponsel sebelum pembicaraan menjadi semakin membosankan. Diambilnya laptop di meja, dibukanya buru-buru sambil tersenyum gembira.

"Masih ada yang bisa menyenangkan hatiku malam ini," bisiknya sambil membuka kotak masuk di layarnya.

Saigon Kick alunkan I Love You dari dalam laptop Arini, menambah bius asmara gadis belia itu. Ditatapnya layar kaca di depannya dengan hati bergetar. Tak dihiraukannya lagi kekasih yang ingkar janji, jemari dengan kuku panjangnya mengetuk meja tanpa irama, sama dengan hatinya yang bergemuruh menanti sebuah pesan. Matanya tak berkedip menatap layar dengan gelisah. Tak lama pesan yang ditunggu pun datang.

"Malam, Arin?"

Indah seketika malam itu bagi Arini. Hubungan berjarak entah berapa jauh membuatnya dapat segera mengatasi kegelisahan dan kebosanannya pada rutinitas kehidupan yang hanya berjalan wajar, tanpa hentakan berarti. Lelaki di balik layar itu selalu menemaninya melewati malam, menyapanya dengan hangat, dan membuat malamnya berlalu dengan gembira. Segera dibalasnya pesan itu tanpa menunggu detik berjalan.

"Malam juga, Dio."

"Apa kabarmu malam ini, Arin?"

"Semakin baik setelah mendapat sapaan ini."

"Maaf Arin, kemarin aku tidak bisa OL karena sibuk sampai tengah malam.”

“Kuharap kamu tidak menungguku."

Arini tersenyum sambil menggigit kukunya pelan. Kini dia tak harus merasa bersalah karena kemarin dia pun disibukkan pertengkaran kecil dengan sang kekasih dalam kehidupan nyata.

"Tidak apa Dio, aku memakluminya."

Malam pun berlalu dengan sangat indah untuk dua hati di balik dua ruang layar cinta itu. Bintang bersenandung di hati keduanya, menyapa malam dengan gembira.

~

Hari berjalan mengganti cuaca dan sinarnya, namun dunia Arini masih sama, layar dari laptop tercinta. Entah barang electronik itu yang kini disayanginya, atau lelaki di balik layarnya yang selalu memberikan kalimat lembut dan mempesona. Arini tak pernah mencoba untuk memahaminya. Sang kekasih baginya tak terlalu menarik lagi untuk mengisi harinya, karena dia tak ada di sisinya saat sepi.

"Gimana, Arin? Apa hari ini kamu sudah memutuskan?" tanya Dio dari balik layar monitornya.

Arini membaca tulisan di layar berulang-ulang. Sudah satu minggu Dio mengajaknya untuk bertemu muka, namun Arini belum menjawab. Banyak hal yang harus dipertimbangkannya sebelum memutuskan untuk menerima ajakan Dio bertemu muka. Arini ragu dengan hubungannya bersama kekasihnya, namun belum ingin juga memulai hubungan baru yang lebih serius. Layar itu masih berkedip menanti jawaban.

"Kita baru satu bulan berkenalan, Dio," tulisnya kemudian.

"Satu bulan adalah waktu yang pantas bagi pertemanan untuk saling bertemu muka, bukan?"

"Apakah kamu bisa menjamin kita hanya berteman?"

Layar masih berkedip dan Dio belum juga memberikan jawaban. Arini menunggu dengan gelisah. Segera gadis itu menyesali pertanyaannya. Saat jemarinya hendak menulis lagi memperbaiki pertanyaannya, kalimat balasan Dio tampak mulai masuk.

"Baiklah, aku mengerti. Kata cinta di balik layar tidak akan menjamin kita bisa melanjutkan hubungan ini dengan baik. Untuk itu aku jamin kita mulai semuanya dari awal saat bertemu nanti."

"Dari awal?"

"Ya, dari awal. Kita bertemu muka, berkenalan lebih dekat secara nyata, dan memulai dengan pertemanan. Masalah nanti berlanjut seperti di sini, berarti itu bukan kehendakku."

"Artinya?" tulis Arini sambil tersenyum senang.

"Artinya kita benar-benar saling mencintai, kan?"

Arini menatap monitor tak percaya. Senyumnya segera lenyap dari bibirnya. Bayangan kekasihnya segera menyita perhatian dan membuatnya semakin ragu memenuhi permintaan Dio.

"Bagaimana jika Dio mencintaiku?" bisiknya.

Tapi, janji Dio untuk berteman di awal pertemuan membuatnya kembali sedikit tenang. Dengan jemari gemetar akhirnya Arini menuliskan jawaban tanpa direncana.

"Baiklah, aku bersedia bertemu denganmu."

"Duh, senangnya hatiku, Arin. Akhirnya kamu bersedia. Terima kasih, ya. Aku tunggu besok jam makan siang di De Java Corner."

Keduanya bertukar nomor ponsel, merencanakan pertemuan dengan gembira dan hati berdebar. Arini sejenak melupakan kekasih yang ada dalam kehidupan nyatanya. Pertemanan yang dijanjikan Dio untuk mengawali perjumpaan itu membuat gadis itu tak takut lagi terjadi sesuatu dengan hubungannya di kehidupan nyata. Kegembiraan tak dapat disembunyiannya malam itu. Segala macam bentuk wajah diukirnya dalam benak, mencoba menerka bagaimana wajah Dio nantinya. Hatinya benar-benar berbunga, bertolak belakang dengan kekhawatirannya.

Layar kembali tertutup menyembunyikan lelaki pujaan hati di balik kedipnya, menyongsong malam kian larut. Arini melesat ke depan lemari pakaian, memilih warna dan model tercantik dari sekian pakaiannya, lalu mematut diri di depan cermin. Tak dihiraukannya jam dinding berkali-kali memanggilnya untuk segera lelap. Dini hari baru Arini terlelap dibuai mimpi indah, memeluk bayangan lelaki di balik layar.

~

Anggoro menatap Wulan sambil sesekali memainkan ponsel yang digenggamnya. Tak ada yang ingin disampaikannya pada Wulan kali ini, namun rasa bersalahnya mengharuskan kakinya melangkah ke ruang kerja Wulan, hanya sekedar menyapa. Tak ingin diganggunya gadis yang sudah sejak lama menghuni hatinya itu sibuk dengan pekerjaannya. Ditatapnya Wulan diam-diam, mencari alasan, apa yang membuat dirinya menginginkan pergi meninggalkan gadis itu?

Alasan itu tak ditemukannya juga. Semua masih seperti semula, seperti saat dia pertama mengenalnya. Anggoro semakin merasa bersalah. Ditelitinya lagi hatinya sendiri, mengingat gadis yang baru sebulan dikenalnya di belakang Wulan. Dan, hari ini ingin ditemuinya gadis itu. Bimbang mulai menghampiri hati Anggoro. Ditatapnya ponsel di tangannya, mempertimbangkan apakah dia harus membatalkan janjinya bertemu gadis itu. Wulan menatap Anggoro heran. Tidak biasanya Anggoro sependiam itu.

"Ada apa?" tanya Wulan sambil mendekati Anggoro.

"Apa? Ah, nggak ada apa-apa," jawab Anggoro menyembunyikan gelisahnya.

"Itu, kenapa dari tadi liatin aku seperti itu?"

"Nggak ada apa-apa," jawab Anggoro ragu.

"Ya sudah, sana kerja. Bos datang kena marah, lho."

Anggoro berlalu sambil tertawa. Tak dimilikinya cukup keberanian untuk mengajak Wulan berbincang tentang hubungan mereka. Sikap Wulan yang wajar dan biasa saja membuatnya semakin merasa bersalah. Namun, janji dengan gadis lain sudah dibuat dan dia tidak bisa membatalkan begitu saja. Siang ini dia harus menemui gadis lain tanpa sepengetahuan Wulan, kekasihnya.

Hari itu berjalan begitu lambat bagi Anggoro juga Wulan. Segera dikemasinya barang-barang ketika jam sudah menunjukkan pukul dua belas siang. Berjalan keluar ruangan, dilihatnya pintu ruangan Anggoro masih tertutup. Diketuknya perlahan, lalu dibukanya pintu itu. Anggoro sedang tekun dengan pekerjaannya. Sejenak Wulan diam, ada rasa bersalah di hatinya saat ingin berpamitan. Tapi, dia harus.

"Ang, aku hari ini makan di luar ya, mau ketemu teman kuliah," pamit Wulan sambil masuk ke dalam ruangan Anggoro.

Anggoro mengangguk sambil tersenyum, "Kebetulan, sebentar lagi aku juga keluar kantor."

"Nanti malam jadi ke rumah, kan?"

"Tentu, Sayang. Aku janji malam ini tak akan kubatalkan lagi."

"Baiklah, aku berangkat dulu, ya. Kamu jangan lupa makan juga."

"Oke. Hati-hati, ya."

Wulan tersenyum lega, melambaikan tangannya dan berlalu dari sana dengan ceria. Dia tak perlu lagi kesulitan mencari alasan dan merasa bersalah karena Anggoro pun sudah mempunyai rencana untuk keluar kantor. Dirabanya lagi tasnya, mencari memo berisi nomor telepon yang dia dapatkan malam lalu, kemudian menyeberangi jalan dan memanggil taxi yang kebetulan sedang lewat di depan kantornya.

Sementara di dalam ruangannya, tak lama setelah kepergian Wulan, Anggoro pun mengemasi pekerjaannya dan segera melesat keluar ruangan. Pasangan kekasih ini bekerja pada satu perusahaan yang sama. Menghabiskan waktu berdua adalah hal yang sudah terlalu biasa bagi mereka, kecuali hari ini. Keduanya memiliki rencana di luar rutinitas bersama. Masing-masing tersenyum ceria, melangkah menuju ke tempat yang sama.

~

Memasuki sebuah cafe di tengah kota, Arini melangkah perlahan, mencari tempat yang dapat membuatnya nyaman. Dikitarinya ruangan dengan matanya, dilihatnya hanya ada beberapa tamu di sana. Seorang pelayan cantik berpakaian seragam sangat menarik datang menghampiri Arini. Tatapan mata dan senyumnya tak sedikitpun menunjukkan keraguan, melangkah pasti mendekati Arini.

"Maaf, apa nama Mbak, Arini?" tanyanya sopan.

"Ya, betul," jawab Arini mengernyitkan dahi.

"Pasti akan bertemu Mas Dio."

"Ya, betul." Arini semakin heran dan kebingungan.

"Silakan ikuti saya, Mbak. Tadi pagi-pagi sekali Mas Dio sudah memesan tempat untuk makan siang di sini bersama Mbak Arini. Mari, silahkan."

Pelayan cantik itu berjalan ke sudut ruangan diikuti Arini. Langkahnya cepat membuat Arini tidak dapat bertanya lebih lanjut. Arini mengikuti saja dengan patuh dari belakang. Tak lama senyumnya mengembang lebih ceria. Dio sudah mempersiapkan semua. Dilihatnya di meja yang sudah dipesan terpasang lilin dan sekuntum mawar cantik. Setelah berbasa basi sebentar pelayan cantik itu meninggalkannya. Arini membalas senyumnya dengan manis dan ramah. Diucapkannya terima kasih sebelum pelayan itu berlalu meninggalkannya.

Di sudut ruangan De Java Corner itu Arini duduk sebentar, menikmati nuansa romantis yang telah dipersiapkan oleh Dio. Kemudian mengeluarkan nomor telepon genggam yang diberikan Dio padanya. Sebelum ditekannya nomor tersebut, ponselnya sudah berbunyi. Nomor yang sama dengan yang dipegangnya. Dadanya berdebar, namun senyumnya mengembang.

"Halo, Dio, ya?"

"Kamu di mana, Arin? Aku di luar De Java Corner, nih."

"Di dalam, Dio. Terima kasih atas kejutan yang kamu siapkan. Aku memakai baju biru cerah," jawab Arini sambil tertawa.

"Oke, aku ke dalam. Aku pakai kemeja biru tua, ya," sambut Dio dengan tawa riang pula.

Sambungan terputus. Kedua insan itu menanti dengan dada bergetar. Dio melangkah dengan tegap memasuki cafe itu. Dari mejanya Arini pun mengawasi pintu café, menci sosok yang baru saja menelponnya. Tak lama wajah mereka pucat pasi saat berdekatan.

"Wulan?" seru Dio dengan wajah pucat.

"Anggoro?" jawab Arini dengan jemari membeku.

Segera pelayan menyingkir dari sana melihat situasi menjadi panas, tak kalah panas dengan sinar mentari di luar cafe. Sementara sepasang kekasih tersenyum simpul di sudut ruangan lain, memandang kedua remaja sedang berseteru cinta.

Selamat menikmati hari yang indah, Kit Rose

:: :: ::
Biasnya menerobos waktu dan segala tanda tanya, hingga hati mempercayai rindunya. Namun, tetap saja ada batas pada layar ini, untuk menjadi pijakan meniti langkah nyata, hingga dirimu lama tercenung pada siang yang terang saat layar itu kembali tertutup.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar