Jumat, 29 Mei 2020

Cicak


Cicak merayap mendekat
bercerecap dan berjingkat pelan namun pasti
entah dia sedang bernyanyi
atau menyampaikan sesuatu
entahlah, hanya dia yang tahu

Langkahnya pelan lantunkan sihir
sepasang mata mengawasi dengan seksama
terserap, dada berdetak cepat, tersesap, kian dalam
tubuh ringkih menggigil

Bayangan cicak melintas membawa makna
menyeret bayangan lain
hitam
pekat

Sihirkah?
Entahlah
Angin berdesir ngilu

~~

Selasih selesai mendaftarkan mobilnya ke dalam antrian dan tinggal menunggu selesai diservis. Menurut pegawai bengkel yang melayaninya, mobil akan siap dalam waktu dua jam. Padahal menurut Selasih harusnya tidak selama itu karena hanya mengganti oli mesin. Bulan lalu dia sudah ganti oli lengkap juga tune-up dan cek lain-lain. Tapi apa mau dikata, mobilnya berada di daftar antrian ketiga, jadi tetap harus menunggu. Setelah sebentar menimbang-nimbang, akhirnya Selasih memutuskan untuk menunggu saja di ruang tunggu sampai mobilnya selesai.

"Mau minum apa, Bu? Kopi seperti biasa atau mau coba minuman lain?" tanya salah satu pegawai koperasi bengkel dengan sopan. Sepertinya dia sudah hafal betul minuman kesukaan Selasih.

"Seperti biasa saja, Mbak," jawab Selasih tersenyum ramah.

"Lebih pahit atau manis?"

"Agak pahit ya, biar nggak ngantuk." Tersenyum lagi.

"Baik, silakan tunggu sebentar."

Selasih memilih tumpukan koran dan majalah di pojok ruangan. Matanya tersangkut pada sebuah puisi yang dipajang di salah satu halaman media. Perempuan setengah baya yang biasanya tidak menyukai politik itu tiba-tiba tertarik untuk membaca puisi tersebut. Diambilnya surat kabar itu dan memilih tempat duduk kesayangannya di pojok ruang tunggu. Tak lama pegawai koperasi datang membawa kopi untuknya.

"Kalau Ibu mau, bisa saya ambilkan koran lain atau majalah terbaru di kantor," tawarnya.

"Nggak usah Mbak, terima kasih. Saya baca ini saja. Kelihatannya ada yang menarik di sini," jawab Selasih, dibalas dengan anggukan sopan.

Selasih yang tidak menyukai minuman panas membuka tutup cangkir dan membiarkan asap mengepul meninggalkan kopi yang menunggu dihirup bibir indahnya. Bibir yang selalu mengalirkan senyum ramah hingga dimanapun dia berada selalu membawa keramahan pula bagi lawan bicara dan siapa saja yang berada di dekatnya. Dibukanya halaman yang memuat sebaris panjang puisi, lalu dibacanya puisi itu dengan teliti dan berulang-ulang. Entah mengapa.

Cicak Nguntal Boyo

Yo iki buntutku, kok pidak siji dadi sewu.

Yo iki sing jenengane aji Candrabirawa, ajine wong cilik.

Soyo mbok idak soyo brontak.

Soyo mbok pateni soyo urip.

Soyo mbok apusi soyo lantip ing budi.

Yo iku mau sing jenengane people power, heee boyo.

Nadyan awakku lembut tan keno jinumput, gedhene ngebaki jagad.

Mulo sanadyan aku mung cicak.

Aku biso nguntal kowe,

wong gedhemu luwih cilik tinimbang jagad sak isine...

Pluk...!
Tiba-tiba seekor cicak jatuh di halaman yang sedang dibaca Selasih, diiringi dengan jeritan melengking. Selasih melempar koran di tangannya dan tubuhnya terpelanting ke belakang. Wajahnya pucat pasi menatap nanar pada cicak yang melompat keluar dari lipatan koran yang dilemparnya. Beberapa orang yang sedang asyik menonton televisi dan membaca di ruangan itu berebut membantu Selasih berdiri dan bertanya.

"Ada apa, Bu?"

Seperti juga yang dilontarkan para pegawai koperasi sambil tergopoh-gopoh mendekati Selasih. Segera perasaan bersalah menerpa Selasih.

"Nggak apa-apa. Duh, maafin saya, ya. Ada cicak jatuh di koran yang sedang saya baca," jawab Selasih sambil berdiri dan menyembunyikan rasa takut yang masih tersisa sekaligus malu. Tiba-tiba, wajah Selasih memucat, saat berkelebat bayangan seorang pemuda di matanya. Entah siapa, Selasih tidak mengenalnya.

"Oh," sahut orang-orang hampir berbarengan, dengan ekspresi beraneka ragam menambah rasa bersalah Selasih.

"Sebegitu takutnya Ibu sama cicak, sampai wajah Ibu pucat begitu?" tanya seseorang sambil menghampiri Selasih. Disodorkannya sebotol sedang air mineral sambil tersenyum. Selasih menerimanya dengan ragu.

"Pobia dari kecil Pak, sudah begitu, jatuhnya tepat di depan saya, di halaman yang sedang saya baca, jadi kaget banget. Maaf ya Pak, saya jadi mengganggu," jawab Selasih semakin merasa bersalah.

"Tidak apa-apa. Tapi, kalau melihat reaksi dan begitu pucatnya wajah Ibu, jangan-jangan sebuah firasat?"

"Maksud Bapak?"

"Saya pernah mendengar dari teman, katanya kalau kita kejatuhan cicak dan menjadi ketakutan luar biasa, itu tandanya akan terjadi sesuatu dengan diri kita atau orang terdekat kita," jawab lelaki itu, kemudian permisi meninggalkan ruangan karena namanya sudah dipanggil petugas kasir untuk menyelesaikan administrasi.

"Iya, saya juga pernah dengar itu," sahut seorang pemuda yang duduk di belakang Selasih, "dan saya juga pernah mengalaminya."

"Mengalami apa?" tanya Selasih.

"Waktu itu kepala saya kejatuhan cicak. Teman saya juga mengatakan hal yang sama dengan yang dikatakan Bapak tadi, tapi saya nggak percaya, dan tak lama kemudian Ibu saya meninggal."

"Apakah memang ada hubungannya? Tidakkah itu hanya kebetulan saja? Anda percaya yang mana?"

"Saya sendiri nggak tahu, dan saya nggak mau memikirkan hal itu lagi, toh Ibu saya sudah tidak ada lagi, buat apa saya pikirkan terus."

Tak lama kemudian pemuda itu juga meninggalkan ruangan karena namanya juga sudah dipanggil, menyusul penunggu yang lain. Selasih tercenung sendiri memandangi koran yang masih tergeletak di lantai dan cicak yang masih bertengger di atasnya. Dia masih ingin membaca lanjutan puisi tadi, tapi ketakutannya pada binatang yang hampir sebesar jarinya itu mengalahkan keinginannya.

"Bikin orang makin takut aja ya, Bu?"

"Eh, Mas Taufik, kok jadi ikut repot?" jawab Selasih makin malu.

"Orang-orang di bawah cerita, katanya Ibu habis histeris karena cicak," jawab Taufik sambil mengabil koran di lantai, lalu memberikannya pada selasih. "Masih mau baca?" Tersenyum penuh perhatian.

"Enggak, ah." Cepat Selasih beringsut menjauh dari koran yang disodorkan Taufik, membuat lelaki yang sering menunjukkan perhatian berlebih pada Selasih itu tertawa.

“Masih takut rupanya." Taufik tersenyum sambil mengembalikan koran pada tumpukan lainnya. "Ibu juga percaya dengan tahyul yang diceritakan pemuda tadi?"

"Jauh sebelum pemuda itu menceritakan pengalamannya, saya sudah takut sama cicak Mas, jadi saya rasa ketakutan saya ini nggak ada hubungannya dengan cerita pemuda tadi." Selasih menegakkan duduknya. "Lagipula, walaupun saya juga pernah mendengar tentang cerita itu, kondisinya kan, berbeda. Pemuda itu kejatuhan cicaknya di kepala, dan tadi cicaknya jatuh di koran. Setelah itu, Ibu pemuda tadi meninggal, dan Ibu saya sudah lama meninggal. Jadi semakin nggak ada hubungannya, kan."

Selanjutnya mereka membicarakan mobil Selasih yang juga sudah selesai diganti oli. Tak lama Selasih permisi untuk menyelesaikan administrasi di kasir dan berpamitan pulang. Kesibukan hari itu mengurai kejadian di ruang tunggu bengkel yang dialami Selasih, hingga perempuan itu tak sempat lagi mengingatnya.

~

"Sih. Asih, bangun!" Burhan membangunkan istrinya, tapi tak berhasil. Selasih terus menangis dan mengerang. Tangannya menunjuk ke satu arah yang tak dipahami Burhan. Lalu, diangkatnya kepala istrinya sambil berbisik di telinganya. "Istighfar Asih, lepaskan dirimu dari apa yang kau lihat, bangunlah."

Tak lama kemudian, perlahan mata Selasih terbuka dan kesadarannya pulih kembali. "Ada apa, Mas?" Selasih bangun dari tidurnya, menegakkan duduk dan menghapus air matanya.

"Nih, minum dulu." Burhan menyodorkan gelas. Kebiasannya adalah menyiapkan air putih untuk istrinya yang sering bermimpi aneh.

"Aku mimpi pemuda itu lagi, sama seperti kemaren malam," jawab Selasih setelah kembali tenang. Diusapnya keringat yang mengucur deras di dahinya, lalu diteguknya sampai tandas air yang disodorkan suaminya. Tiba-tiba seekor cicak merayap di dinding mendekati tempat tidur. Buru-buru Burhan mengusir cicak itu sebelum istrinya menjerit ketakutan.

"Sekarang coba ceritakan, sebenarnya kamu mimpi apa?"

"Dalam mimpiku, aku melihat seorang pemuda yang sedang ikut demo dan pemuda itu meninggal."

"Demo apa, di mana, dan siapa pemuda dalam mimpimu itu?"

"Aku nggak tahu. Mungkin demo soal KPK yang lagi ramai dibahas orang-orang itu."

"Ah, itu kan cuma efek dari kejadian. Orang berdebat wajar, tapi kan nggak sampai demo. Di televisi juga nggak ada berita mengenai demo, kan?"

"Tapi, aku mimpi sudah dua kali lho, Mas."

"Kamu terbawa suasana mungkin. Ke mana kita pergi selalu bertemu orang-orang yang membahas mengenai hal itu. Televisi, radio, di kantor, bahkan di arisan RT juga membahas hal yang sama. Wajarlah itu Sih, itu tanda kalau kita masih peduli. Nggak usah terlalu dipikirin sampai dibawa mimpi seperti ini."

"Emangnya aku minta untuk mimpi hal yang sama, mimpi kan datang dengan sendirinya Mas," jawab Selasih kesal.

"Iya, tapi mimpi bisa juga disebabkan karena kita terlalu memikirkan sesuatu."

"Mas kan tahu, aku tidak suka politik, jadi mana mungkin aku mikir soal politik sampai kebawa mimpi seperti ini." Ngotot.

"Ya sudah, mudah-mudahan saja mimpimu ini nggak jadi kenyataan. Sekarang berdoa biar bisa tidur lagi dengan tenang, dan nggak mimpi lagi tentang hal yang sama."

~

Keesokan paginya Selasih lama duduk di depan televisi. Apa yang dilihatnya di layar kaca itu sama persis dengan apa yang dilihatnya dalam mimpi. Semua orang sibuk mempersiapkan demo, lalu seorang pemuda terkapar di tanah.

"Mas, sini lihat!" seru Selasih di depan televisi.

"Ada apa?" tanya Burhan sambil membetulkan letak dasinya.

"Tuh lihat, sudah mulai diberitakan, orang-orang merencanakan demo dimana-mana. Besok kan hari anti korupsi sedunia."

"Walah, itu lagi yang kamu urusin. Sudah siang, nih. Aku harus rapat pagi-pagi, jadi cepetan, terlambat aku nanti."

Selasih mengambil tas kerja suaminya dan menyerahkannya bersama map-map penuh berisi berkas. "Mas duluan saja, aku hari ini ke kantor agak siang. Andri mau menjemputku, sekalian ada hal penting yang mau dia ceritakan katanya."

"Jangan mentang-mentang atasan, lalu kamu datang ke kantor pada jam yang nggak pasti, ya. Itu contoh yang nggak bagus buat pegawai yang lain, dan kamu juga akan dinilai kurang bagus oleh perusahaan nantinya."

"Paling juga telat setengah jam, ceritanya sambil jalan, kok."

"Pasti curhat soal suaminya. Kamu jangan terlalu ikut campur. Nggak bagus. Walaupun kamu merasa bisa memberikan nasehat yang menurutmu baik, lebih baik jadi pendengar saja."

"Salah," jawab Selasih tersenyum menang, "Dia mau minta saran, gimana caranya nasehatin anaknya yang ngotot mau ikutan teman-temannya demo. Tadi pagi-pagi dia telepon, anaknya mogok kuliah gara-gara nggak diizinin ikutan demo."

"Ya sudah, selamat jadi penasehat yang baik. Aku berangkat dulu, ya."

"Oke. Pulangnya jangan lupa jemput, ya," jawab Selasih, mencium tangan suaminya, lalu mengantarkannya sampai ke pintu gerbang.

~

Sampai jam delapan lebih sepuluh, Andri tidak datang juga. Selasih mondar-mandir di teras rumahnya menahan gelisah. Berkali-kali dicobanya menelpon, tapi tak berhasil. Telepon di rumah sahabatnya itu juga tak ada yang mengangkat. Akhirnya Selasih memutuskan untuk berangkat ke kantor dengan taxi.

Sesampainya di kantor tak dijumpainya juga Andri di ruangannya. Dan, sampai sore sahabatnya tetap tidak bisa dihubungi. Tak seorangpun bisa memberikan penjelasan kenapa hari ini Andri tidak masuk kerja. Selasih cuma bisa menunggu. Suaminya berjanji akan mengantarkannya ke rumah Andri kalau sampai besok Andri tetap tidak masuk dan tidak bisa dihubungi.

~

Selasih melangkah keluar dari kantornya menuju ke tempat parkir di mana suaminya sudah menunggu. Burhan menjalankan mobilnya, melambai pada petugas keamanan di pintu keluar pelataran parkir.

"Kita lewat jalan pintas saja ya, takutnya jalan tol masih macet karena demo seperti kemaren." Burhan membelokkan mobilnya sebelum mendapat persetujuan dari istrinya.

"Sekalian mampir ke rumah Andri aja, Mas."

"Oh, iya ya, jalan ini kan searah dengan rumah Andri. Emang belum masuk kerja juga?"

"Belum, dan ini sudah hari ketiga. Aku juga belum bisa hubungi dia."

"Kamu masih ingat kan, rumahnya?"

"Lupa-lupa ingat, orang baru sekali ke sana, tapi aku ada alamatnya."

Selasih menyalakan radio. Sore merambat mendekati petang dan jalan yang mereka lalui mulai diramaikan orang-orang yang pulang dari kantornya masing-masing. Selasih dan Burhan mengisi perjalanan dengan membahas pekerjaan masing-masing dan bertukar pikiran mengenai masalah yang mereka hadapi. Beberapa menit kemudian mobil memasuki sebuah komplek perumahan.

Burhan menghentikan mobilnya di pos penjagaan, menukar tanda pengenalnya dengan kartu tamu, lalu menerobos melewati beberapa blok. Sesekali Selasih mengingatkan Burhan untuk memperlambat mobilnya karena harus memperhatikan nomor rumah dengan seksama. Di pertigaan ketiga Burhan menghentikan mobilnya. Selasih memperhatikan sebuah rumah dan nomor yang menempel di pintu.

"Benar Mas, ini rumahnya."

Selasih turun dari mobil, memasuki halaman yang tidak begitu luas dan tidak berpagar, lalu menekan bel di pintu. Tak lama seorang gadis keluar.

"Ya Bu, mencari siapa?"

"Ini benar, rumah Bu Andri?"

"Iya, benar. Tapi, Tante Andri nggak di rumah. Saya keponakannya."

"Oh. Ke mana, ya? Saya Selasih, teman kantornya."

"Tante pulang kampung."

Gadis itu menunduk, raut wajahnya menyimpan mendung. "Membawa jenazah Tono, sepupu saya."

"Apaaa? Membawa jenasah Tono?" Selasih tak sadar memegang pundak gadis itu, "Apa yang terjadi?"

"Tono meninggal kemaren dalam aksi demo Tante, dan tadi pagi jenazahnya dibawa ke kampung. Tante Andri minta jenazahnya dimakamkan di makam keluarga di kampung."

"Ya Tuhan…" Selasih tak dapat berkata-kata lagi, mengucapkan bela sungkawa pada keponakan sahabatnya, lalu melangkah gontai memasuki mobil.

Burhan terdiam mendengar cerita istrinya. Ingatannya melayang pada mimpi yang dialami istrinya, tapi tak diucapkannya. Dicobanya menghibur istrinya yang terlihat sangat terpukul, lalu dibiarkannya istrinya tenggelam dalam lamunannya sebentar.

"Kamu nggak apa-apa, Asih?" tanya Burhan kemudian memecah kebisuan.

"Nggak apa-apa, Mas. Aku cuma kasihan sama Andri, Tono adalah anaknya satu-satunya."

"Yah, kita tak dapat melawan kehendak-Nya."

"Iya, aku juga tidak tahu harus berpikir apa. Mungkin memang sudah kehendak-Nya. Siapapun tidak akan dapat melawan."

Pikiran Selasih melayang pada kejadian di ruang tunggu bengkel dan mimpi-mimpinya. "Apa maksud semua ini?" bisiknya dalam hati. "Seandainya benar kejadian itu sebuah pertanda, dan mimpiku juga untuk Andri, aku pun bisa berbuat apa?"

Selasih dan Burhan menekuni perjalanan pulang sambil bertukar diam. Masing-masing berjalan dengan pikirannya sendiri. Mereka tidak tahu apa yang harus dibicarakan. Satu sama lain mencoba memahami tiap detail dari kejadian, mencermati sebuah pemahaman yang sering didengungkan, bahwa kematian adalah misteri, yang berjalan bagai pencuri, sewaktu-waktu bisa saja menghampiri siapapun tanpa bertanya dan permisi terlebih dahulu.

Pada suatu sore, Kit Rose

:: :: ::
Kenyataan, keadaan, kehidupan, dan ketiadaan, adalah saranamu untuk belajar hidup menuju mati. Bahwa yang kau lihat tak seperti yang terlihat, itu adalah rahasia alam. Bersahabatlah dengannya, kelak akan kau sadari, masih banyak yang tak kau ketahui.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar