Cicak merayap mendekat
bercerecap dan berjingkat
pelan namun pasti
entah dia sedang bernyanyi
atau menyampaikan sesuatu
entahlah, hanya dia yang tahu
Langkahnya pelan lantunkan
sihir
sepasang mata mengawasi dengan
seksama
terserap, dada berdetak cepat,
tersesap, kian dalam
tubuh ringkih menggigil
Bayangan cicak melintas
membawa makna
menyeret bayangan lain
hitam
pekat
Sihirkah?
Entahlah
Angin berdesir ngilu
~~
Selasih selesai mendaftarkan
mobilnya ke dalam antrian dan tinggal menunggu selesai diservis. Menurut
pegawai bengkel yang melayaninya, mobil akan siap dalam waktu dua jam. Padahal
menurut Selasih harusnya tidak selama itu karena hanya mengganti oli mesin.
Bulan lalu dia sudah ganti oli lengkap juga tune-up dan cek lain-lain. Tapi apa
mau dikata, mobilnya berada di daftar antrian ketiga, jadi tetap harus
menunggu. Setelah sebentar menimbang-nimbang, akhirnya Selasih memutuskan untuk
menunggu saja di ruang tunggu sampai mobilnya selesai.
"Mau minum apa, Bu? Kopi
seperti biasa atau mau coba minuman lain?" tanya salah satu pegawai
koperasi bengkel dengan sopan. Sepertinya dia sudah hafal betul minuman
kesukaan Selasih.
"Seperti biasa saja, Mbak,"
jawab Selasih tersenyum ramah.
"Lebih pahit atau
manis?"
"Agak pahit ya, biar
nggak ngantuk." Tersenyum lagi.
"Baik, silakan tunggu
sebentar."
Selasih memilih tumpukan koran
dan majalah di pojok ruangan. Matanya tersangkut pada sebuah puisi yang dipajang
di salah satu halaman media. Perempuan setengah baya yang biasanya tidak
menyukai politik itu tiba-tiba tertarik untuk membaca puisi tersebut.
Diambilnya surat kabar itu dan memilih tempat duduk kesayangannya di pojok
ruang tunggu. Tak lama pegawai koperasi datang membawa kopi untuknya.
"Kalau Ibu mau, bisa saya
ambilkan koran lain atau majalah terbaru di kantor," tawarnya.
"Nggak usah Mbak, terima
kasih. Saya baca ini saja. Kelihatannya ada yang menarik di sini," jawab
Selasih, dibalas dengan anggukan sopan.
Selasih yang tidak menyukai
minuman panas membuka tutup cangkir dan membiarkan asap mengepul meninggalkan
kopi yang menunggu dihirup bibir indahnya. Bibir yang selalu mengalirkan senyum
ramah hingga dimanapun dia berada selalu membawa keramahan pula bagi lawan
bicara dan siapa saja yang berada di dekatnya. Dibukanya halaman yang memuat
sebaris panjang puisi, lalu dibacanya puisi itu dengan teliti dan
berulang-ulang. Entah mengapa.
Cicak Nguntal Boyo
Yo iki buntutku, kok pidak
siji dadi sewu.
Yo iki sing jenengane aji
Candrabirawa, ajine wong cilik.
Soyo mbok idak soyo brontak.
Soyo mbok pateni soyo urip.
Soyo mbok apusi soyo lantip
ing budi.
Yo iku mau sing jenengane
people power, heee boyo.
Nadyan awakku lembut tan keno
jinumput, gedhene ngebaki jagad.
Mulo sanadyan aku mung cicak.
Aku biso nguntal kowe,
wong gedhemu luwih cilik
tinimbang jagad sak isine...
Pluk...!
Tiba-tiba seekor cicak jatuh
di halaman yang sedang dibaca Selasih, diiringi dengan jeritan melengking.
Selasih melempar koran di tangannya dan tubuhnya terpelanting ke belakang.
Wajahnya pucat pasi menatap nanar pada cicak yang melompat keluar dari lipatan
koran yang dilemparnya. Beberapa orang yang sedang asyik menonton televisi dan
membaca di ruangan itu berebut membantu Selasih berdiri dan bertanya.
"Ada apa, Bu?"
Seperti juga yang dilontarkan
para pegawai koperasi sambil tergopoh-gopoh mendekati Selasih. Segera perasaan
bersalah menerpa Selasih.
"Nggak apa-apa. Duh,
maafin saya, ya. Ada cicak jatuh di koran yang sedang saya baca," jawab
Selasih sambil berdiri dan menyembunyikan rasa takut yang masih tersisa
sekaligus malu. Tiba-tiba, wajah Selasih memucat, saat berkelebat bayangan
seorang pemuda di matanya. Entah siapa, Selasih tidak mengenalnya.
"Oh," sahut
orang-orang hampir berbarengan, dengan ekspresi beraneka ragam menambah rasa
bersalah Selasih.
"Sebegitu takutnya Ibu
sama cicak, sampai wajah Ibu pucat begitu?" tanya seseorang sambil
menghampiri Selasih. Disodorkannya sebotol sedang air mineral sambil tersenyum.
Selasih menerimanya dengan ragu.
"Pobia dari kecil Pak,
sudah begitu, jatuhnya tepat di depan saya, di halaman yang sedang saya baca,
jadi kaget banget. Maaf ya Pak, saya jadi mengganggu," jawab Selasih
semakin merasa bersalah.
"Tidak apa-apa. Tapi,
kalau melihat reaksi dan begitu pucatnya wajah Ibu, jangan-jangan sebuah
firasat?"
"Maksud Bapak?"
"Saya pernah mendengar
dari teman, katanya kalau kita kejatuhan cicak dan menjadi ketakutan luar
biasa, itu tandanya akan terjadi sesuatu dengan diri kita atau orang terdekat
kita," jawab lelaki itu, kemudian permisi meninggalkan ruangan karena
namanya sudah dipanggil petugas kasir untuk menyelesaikan administrasi.
"Iya, saya juga pernah
dengar itu," sahut seorang pemuda yang duduk di belakang Selasih,
"dan saya juga pernah mengalaminya."
"Mengalami apa?"
tanya Selasih.
"Waktu itu kepala saya
kejatuhan cicak. Teman saya juga mengatakan hal yang sama dengan yang dikatakan
Bapak tadi, tapi saya nggak percaya, dan tak lama kemudian Ibu saya
meninggal."
"Apakah memang ada
hubungannya? Tidakkah itu hanya kebetulan saja? Anda percaya yang mana?"
"Saya sendiri nggak tahu,
dan saya nggak mau memikirkan hal itu lagi, toh Ibu saya sudah tidak ada lagi,
buat apa saya pikirkan terus."
Tak lama kemudian pemuda
itu juga meninggalkan ruangan karena namanya juga sudah dipanggil, menyusul
penunggu yang lain. Selasih tercenung sendiri memandangi koran yang masih
tergeletak di lantai dan cicak yang masih bertengger di atasnya. Dia masih
ingin membaca lanjutan puisi tadi, tapi ketakutannya pada binatang yang hampir
sebesar jarinya itu mengalahkan keinginannya.
"Bikin orang makin takut
aja ya, Bu?"
"Eh, Mas Taufik, kok jadi
ikut repot?" jawab Selasih makin malu.
"Orang-orang di bawah
cerita, katanya Ibu habis histeris karena cicak," jawab Taufik sambil
mengabil koran di lantai, lalu memberikannya pada selasih. "Masih mau baca?"
Tersenyum penuh perhatian.
"Enggak, ah." Cepat
Selasih beringsut menjauh dari koran yang disodorkan Taufik, membuat lelaki
yang sering menunjukkan perhatian berlebih pada Selasih itu tertawa.
“Masih takut rupanya." Taufik tersenyum sambil mengembalikan koran pada tumpukan lainnya. "Ibu juga
percaya dengan tahyul yang diceritakan pemuda tadi?"
"Jauh sebelum pemuda itu
menceritakan pengalamannya, saya sudah takut sama cicak Mas, jadi saya rasa
ketakutan saya ini nggak ada hubungannya dengan cerita pemuda tadi."
Selasih menegakkan duduknya. "Lagipula, walaupun saya juga pernah
mendengar tentang cerita itu, kondisinya kan, berbeda. Pemuda itu kejatuhan
cicaknya di kepala, dan tadi cicaknya jatuh di koran. Setelah itu, Ibu pemuda
tadi meninggal, dan Ibu saya sudah lama meninggal. Jadi semakin nggak ada
hubungannya, kan."
Selanjutnya mereka membicarakan
mobil Selasih yang juga sudah selesai diganti oli. Tak lama Selasih permisi
untuk menyelesaikan administrasi di kasir dan berpamitan pulang. Kesibukan hari
itu mengurai kejadian di ruang tunggu bengkel yang dialami Selasih, hingga
perempuan itu tak sempat lagi mengingatnya.
~
"Sih. Asih, bangun!"
Burhan membangunkan istrinya, tapi tak berhasil. Selasih terus menangis dan
mengerang. Tangannya menunjuk ke satu arah yang tak dipahami Burhan. Lalu,
diangkatnya kepala istrinya sambil berbisik di telinganya. "Istighfar
Asih, lepaskan dirimu dari apa yang kau lihat, bangunlah."
Tak lama kemudian, perlahan
mata Selasih terbuka dan kesadarannya pulih kembali. "Ada apa, Mas?"
Selasih bangun dari tidurnya, menegakkan duduk dan menghapus air matanya.
"Nih, minum dulu."
Burhan menyodorkan gelas. Kebiasannya adalah menyiapkan air putih untuk
istrinya yang sering bermimpi aneh.
"Aku mimpi pemuda itu
lagi, sama seperti kemaren malam," jawab Selasih setelah kembali tenang.
Diusapnya keringat yang mengucur deras di dahinya, lalu diteguknya sampai
tandas air yang disodorkan suaminya. Tiba-tiba seekor cicak merayap di dinding
mendekati tempat tidur. Buru-buru Burhan mengusir cicak itu sebelum istrinya
menjerit ketakutan.
"Sekarang coba ceritakan,
sebenarnya kamu mimpi apa?"
"Dalam mimpiku, aku
melihat seorang pemuda yang sedang ikut demo dan pemuda itu meninggal."
"Demo apa, di mana, dan
siapa pemuda dalam mimpimu itu?"
"Aku nggak tahu. Mungkin
demo soal KPK yang lagi ramai dibahas orang-orang itu."
"Ah, itu kan cuma efek
dari kejadian. Orang berdebat wajar, tapi kan nggak sampai demo. Di televisi
juga nggak ada berita mengenai demo, kan?"
"Tapi, aku mimpi sudah
dua kali lho, Mas."
"Kamu terbawa suasana
mungkin. Ke mana kita pergi selalu bertemu orang-orang yang membahas mengenai
hal itu. Televisi, radio, di kantor, bahkan di arisan RT juga membahas hal yang
sama. Wajarlah itu Sih, itu tanda kalau kita masih peduli. Nggak usah terlalu
dipikirin sampai dibawa mimpi seperti ini."
"Emangnya aku minta untuk
mimpi hal yang sama, mimpi kan datang dengan sendirinya Mas," jawab
Selasih kesal.
"Iya, tapi mimpi bisa
juga disebabkan karena kita terlalu memikirkan sesuatu."
"Mas kan tahu, aku tidak
suka politik, jadi mana mungkin aku mikir soal politik sampai kebawa mimpi
seperti ini." Ngotot.
"Ya sudah, mudah-mudahan
saja mimpimu ini nggak jadi kenyataan. Sekarang berdoa biar bisa tidur lagi
dengan tenang, dan nggak mimpi lagi tentang hal yang sama."
~
Keesokan paginya Selasih lama
duduk di depan televisi. Apa yang dilihatnya di layar kaca itu sama persis
dengan apa yang dilihatnya dalam mimpi. Semua orang sibuk mempersiapkan demo,
lalu seorang pemuda terkapar di tanah.
"Mas, sini lihat!"
seru Selasih di depan televisi.
"Ada apa?" tanya
Burhan sambil membetulkan letak dasinya.
"Tuh lihat, sudah mulai
diberitakan, orang-orang merencanakan demo dimana-mana. Besok kan hari anti
korupsi sedunia."
"Walah, itu lagi yang
kamu urusin. Sudah siang, nih. Aku harus rapat pagi-pagi, jadi cepetan,
terlambat aku nanti."
Selasih mengambil tas kerja
suaminya dan menyerahkannya bersama map-map penuh berisi berkas. "Mas
duluan saja, aku hari ini ke kantor agak siang. Andri mau menjemputku, sekalian
ada hal penting yang mau dia ceritakan katanya."
"Jangan mentang-mentang
atasan, lalu kamu datang ke kantor pada jam yang nggak pasti, ya. Itu contoh
yang nggak bagus buat pegawai yang lain, dan kamu juga akan dinilai kurang
bagus oleh perusahaan nantinya."
"Paling juga telat
setengah jam, ceritanya sambil jalan, kok."
"Pasti curhat soal
suaminya. Kamu jangan terlalu ikut campur. Nggak bagus. Walaupun kamu merasa
bisa memberikan nasehat yang menurutmu baik, lebih baik jadi pendengar
saja."
"Salah," jawab
Selasih tersenyum menang, "Dia mau minta saran, gimana caranya nasehatin
anaknya yang ngotot mau ikutan teman-temannya demo. Tadi pagi-pagi dia telepon,
anaknya mogok kuliah gara-gara nggak diizinin ikutan demo."
"Ya sudah, selamat jadi
penasehat yang baik. Aku berangkat dulu, ya."
"Oke. Pulangnya jangan
lupa jemput, ya," jawab Selasih, mencium tangan suaminya, lalu
mengantarkannya sampai ke pintu gerbang.
~
Sampai jam delapan lebih
sepuluh, Andri tidak datang juga. Selasih mondar-mandir di teras rumahnya
menahan gelisah. Berkali-kali dicobanya menelpon, tapi tak berhasil. Telepon di
rumah sahabatnya itu juga tak ada yang mengangkat. Akhirnya Selasih memutuskan
untuk berangkat ke kantor dengan taxi.
Sesampainya di kantor tak
dijumpainya juga Andri di ruangannya. Dan, sampai sore sahabatnya tetap tidak
bisa dihubungi. Tak seorangpun bisa memberikan penjelasan kenapa hari ini Andri
tidak masuk kerja. Selasih cuma bisa menunggu. Suaminya berjanji akan
mengantarkannya ke rumah Andri kalau sampai besok Andri tetap tidak masuk dan
tidak bisa dihubungi.
~
Selasih melangkah keluar dari
kantornya menuju ke tempat parkir di mana suaminya sudah menunggu. Burhan
menjalankan mobilnya, melambai pada petugas keamanan di pintu keluar pelataran
parkir.
"Kita lewat jalan pintas
saja ya, takutnya jalan tol masih macet karena demo seperti kemaren."
Burhan membelokkan mobilnya sebelum mendapat persetujuan dari istrinya.
"Sekalian mampir ke rumah
Andri aja, Mas."
"Oh, iya ya, jalan ini
kan searah dengan rumah Andri. Emang belum masuk kerja juga?"
"Belum, dan ini sudah
hari ketiga. Aku juga belum bisa hubungi dia."
"Kamu masih ingat kan,
rumahnya?"
"Lupa-lupa ingat, orang
baru sekali ke sana, tapi aku ada alamatnya."
Selasih menyalakan radio. Sore
merambat mendekati petang dan jalan yang mereka lalui mulai diramaikan
orang-orang yang pulang dari kantornya masing-masing. Selasih dan Burhan
mengisi perjalanan dengan membahas pekerjaan masing-masing dan bertukar pikiran
mengenai masalah yang mereka hadapi. Beberapa menit kemudian mobil memasuki
sebuah komplek perumahan.
Burhan menghentikan mobilnya
di pos penjagaan, menukar tanda pengenalnya dengan kartu tamu, lalu menerobos
melewati beberapa blok. Sesekali Selasih mengingatkan Burhan untuk memperlambat
mobilnya karena harus memperhatikan nomor rumah dengan seksama. Di pertigaan
ketiga Burhan menghentikan mobilnya. Selasih memperhatikan sebuah rumah dan
nomor yang menempel di pintu.
"Benar Mas, ini
rumahnya."
Selasih turun dari mobil,
memasuki halaman yang tidak begitu luas dan tidak berpagar, lalu menekan bel di
pintu. Tak lama seorang gadis keluar.
"Ya Bu, mencari siapa?"
"Ini benar, rumah Bu
Andri?"
"Iya, benar. Tapi, Tante
Andri nggak di rumah. Saya keponakannya."
"Oh. Ke mana, ya? Saya
Selasih, teman kantornya."
"Tante pulang
kampung."
Gadis itu menunduk, raut
wajahnya menyimpan mendung. "Membawa jenazah Tono,
sepupu saya."
"Apaaa? Membawa jenasah
Tono?" Selasih tak sadar memegang pundak gadis itu, "Apa yang
terjadi?"
"Tono meninggal kemaren
dalam aksi demo Tante, dan tadi pagi jenazahnya dibawa ke kampung. Tante Andri
minta jenazahnya dimakamkan di makam keluarga di kampung."
"Ya Tuhan…" Selasih
tak dapat berkata-kata lagi, mengucapkan bela sungkawa pada keponakan
sahabatnya, lalu melangkah gontai memasuki mobil.
Burhan terdiam mendengar
cerita istrinya. Ingatannya melayang pada mimpi yang dialami istrinya, tapi tak
diucapkannya. Dicobanya menghibur istrinya yang terlihat sangat terpukul, lalu
dibiarkannya istrinya tenggelam dalam lamunannya sebentar.
"Kamu nggak apa-apa,
Asih?" tanya Burhan kemudian memecah kebisuan.
"Nggak apa-apa, Mas. Aku
cuma kasihan sama Andri, Tono adalah anaknya satu-satunya."
"Yah, kita tak dapat
melawan kehendak-Nya."
"Iya, aku juga tidak tahu
harus berpikir apa. Mungkin memang sudah kehendak-Nya. Siapapun tidak akan
dapat melawan."
Pikiran Selasih melayang pada
kejadian di ruang tunggu bengkel dan mimpi-mimpinya. "Apa maksud semua
ini?" bisiknya dalam hati. "Seandainya benar kejadian itu sebuah
pertanda, dan mimpiku juga untuk Andri, aku pun bisa berbuat apa?"
Selasih dan Burhan menekuni
perjalanan pulang sambil bertukar diam. Masing-masing berjalan dengan
pikirannya sendiri. Mereka tidak tahu apa yang harus dibicarakan. Satu sama
lain mencoba memahami tiap detail dari kejadian, mencermati sebuah pemahaman
yang sering didengungkan, bahwa kematian adalah misteri, yang berjalan bagai
pencuri, sewaktu-waktu bisa saja menghampiri siapapun tanpa bertanya dan
permisi terlebih dahulu.
Pada suatu sore, Kit Rose
:: :: ::
Kenyataan, keadaan, kehidupan,
dan ketiadaan, adalah saranamu untuk belajar hidup menuju mati. Bahwa yang kau
lihat tak seperti yang terlihat, itu adalah rahasia alam. Bersahabatlah
dengannya, kelak akan kau sadari, masih banyak yang tak kau ketahui.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar