dan diam bermain dengan rasa
kutemui bayangan melintas untuk kusapa
inikah wajahmu di dalam mimpiku menjelang malam?
Aku memanggil
untuk cintamu tatkala kau di sana
sajikan bening dengan pantulan yang indah
inikah ujian untuk segenap cinta yang telah kuikrarkan?
Dan,
takbir itu menggema semakin kuat,
menggenggam nuansa cinta.
~~
Prima berlari memasuki kamar kosnya dan buru-buru menutup pintu dengan kaki. Tak dihiraukannya pandangan heran dari Ibu Kos dan teman-temannya. Dia lempar tas kerja begitu saja di atas tempat tidur, lalu membuka laptop tanpa mengganti baju kerjanya terlebih dahulu. Ingatan akan gadis yang dikenalnya di dunia maya membuatnya selalu ingin cepat pulang dan menyapa dari balik layar dan tombol-tombol beraksara itu. Wajah di layar itu tak pernah mau pergi dari ingatannya.
"Pasti mau pacaran tuh, si Prima," celetuk temannya.
"Apaaa? Pacaraaan?" seru Ibu Kos membatalkan langkah ke dapur.
"Tenang, Tante. Di kamar Prima tidak ada siapa-siapa. Dia pacaran sama laptop," sambung teman Prima yang lain.
"Pacaran sama laptop?" tanya Ibu Kos lagi, kebingungan.
Perempuan setengah baya itu terlalu sibuk dengan anak-anak kos dan anak-anaknya sendiri, hingga tak mengikuti kemajuan teknologi. Alisnya terangkat naik memandangi anak kosnya satu per satu. Anak-anak itu hanya menjawab dengan tawa, lalu memasuki kamarnya masing-masing.
Sepanjang perjalanan dari kantornya dilalui Prima dengan tidak sabar. Kemacetan dan hal-hal yang dulu sangat akrab dengan kehidupannya kini dianggapnya sangat mengganggu, karena memperlambat waktunya untuk dapat segera bercengkerama dengan seperangkat komputernya. Benda yang dapat membawanya melambung pada cinta dan rindu. Entah layar itu dengan kalimat-kalimat indah yang membuatnya melambung, ataukah benar-benar karena hatinya terpaut oleh wajah yang dirindukannya. Prima tak pernah mempertanyakan itu pada hatinya.
Lalu, rindu itu tertumpah di sana. Di layar bisu, namun menghantar Prima pada indahnya cinta dan rindu, merebut semua aktifitas yang berderet menunggu sentuhan tangan kokohnya. Prima menuliskan beberapa kalimat, dihapusnya, dan menulis lagi. Tak lama dihapusnya lagi kalimat yang sudah ditulisnya itu.
"Apa kabar?" sapanya kemudian.
Prima duduk tegang, menunggu dengan cemas. Dilihatnya berkali-kali menit yang berputar lambat pada jam tangannya, sambil melirik layar di depannya. Tak lama kemudian napasnya berhembus lega, dan senyum ceria segera mengembang di bibirnya.
"Baik."
"Syukurlah kau ada di sana."
"Aku menunggumu sedari siang, Prim."
"Aku senang membacanya."
Pembicaraan melalui layar monitor segera meluncur dengan deras, seolah tak dapat lagi dihentikan. Keduanya semakin akrab, seakan tak ada batasan bahwa kehangatan itu hanya pada layar monitor. Prima dengan lancar dan terbuka memperkenalkan diri dan kehidupannya pada Lupita melalui layar monitor. Diceritakannya juga tentang keluarga dan kesenangannya membaca. Keduanya bertukar banyak informasi mengenai pribadi dan kehidupan masing-masing, kecuali satu hal. Lupita tak pernah sedikitpun menyinggung mengenai keluarganya. Prima pun tak hendak bertanya tentang hal itu, yang ada dalam hatinya hanya wajah cantik Lupita di layar.
~
Tak terasa waktu berlalu begitu cepat. Selama hampir satu tahun mereka menjalin hubungan melalui dunia maya. Segala hal mereka urai di sana, berbagi cerita suka dan duka, membahas segala hal yang sedang ada di antara mereka, membuat keduanya semakin terikat satu sama lain dalam kehangatan dan rindu. Tak satu hari pun terlewat tanpa bertegur sapa dan berbincang. Hari akan terasa senyap jika tak ada tegur sapa. Hati akan terasa kering jika tak ada kata rindu. Keduanya begitu terpaku pada layar monitor beku, yang kini menjadi seolah hidup. Sampai pada suari hari…
"Lupita?"
"Ya."
"Sudah lama kita kenal."
"Dan, semakin dekat."
"Apa benar rasa yang ada dalam hati kita ini?"
"Apa yang kamu rasakan, Prima?"
"Sayang, cinta, rindu, entahlah. Kamu seolah sudah menyatu dalam hatiku. Apakah kamu merasakan hal yang sama?"
"Lebih dari itu, Prima. Mungkin lebih dari sekedar cinta, kurasa."
"Apa tak ada keinginan untuk bertemu?"
"Aku menunggu kau memintanya."
Seperti sedang mendapat kejuaraan olimpiade, Prima segera berteriak kegirangan. Temannya, Reno, memasuki kamar dengan terheran-heran. Dilemparnya tas kerja sembarangan di atas pembaringan, dilihatnya layar monitor pada laptop Prima, lalu merebahkan diri melepas penat.
"Kamu girang banget, Prim," kata Reno sambil memejamkan mata.
"Kamu tahu nggak, Ren? Lupita ternyata juga ingin bertemu denganku, hanya saja dia tak berani meminta."
"Lalu?"
"Lalu? Ya, lalu kita akan bertemu," jawab Prima kesal.
"Kamu sudah siap?"
"Siap gimana? Ya, siaplah. Apa nih, maksudnya?"
"Ya, siap dengan segala kemungkinan. Kalian kan memadu kasih di dunia maya. Bagaimana kalau semua tidak seperti yang kamu bayangkan?"
Prima mengibaskan tangannya, tak terganggu dengan kalimat Reno. Dilanjutkannya menyusun rencana bersama Lupita untuk bertemu. Kini tak ada lagi yang dapat mencegah rindu dan cinta bersatu. Tanpa disadari, perkenalan menggiring pertemanan menjadi persahabatan, lalu tak terasa mengucap rindu dan cinta, hingga akhirnya membuat janji untuk bertemu, melepas rindu dan mengurai cinta. Indah sesaat memenuhi ruang hati kedua insan muda yang sedang saling mencinta itu. Prima duduk termangu di depan layar laptopnya, menatap bayangan wajah cantik berjalan gemulai menyongsong kedatangannya, lalu menghantarnya pada mimpi indah.
~
Prima memarkir mobilnya di depan sebuah rumah mewah di kawasan elit, turun perlahan sambil mengawasi rumah itu dan meneliti lagi catatan alamat yang diberikan Lupita padanya. Dihampirinya petugas keamanan yang sedang duduk lesu di dalam ruang kecil di sudut halaman rumah. Wajahnya kekar seperti tubuhnya, namun matanya menyiratkan rasa bosan tiada tara. Tersembunyi, namun jelas terbaca.
"Selamat siang, Pak," sapanya dengan sopan.
"Ya?" jawab lelaki itu tegas.
"Benar ini rumah Lupita?"
"Adik siapa?" bertanya penuh curiga.
"Saya Prima, teman Lupita. Kami sudah…."
"Oh, silahkan masuk. Anda sudah ditunggu Non Lupita."
Petugas keamanan itu mempersilahkan Prima masuk tanpa menunggu Prima menyelesaikan kalimatnya. Kemudian dengan tergopoh-gopoh berlari kecil memasuki rumah. Prima melangkah ragu mengikuti lelaki itu memasuki halaman yang luas dan asri. Matanya mengitari halaman itu, takjub. Tak lama seorang gadis cantik, duduk di kursi roda, tersenyum sambil menjalankan sendiri kursi roda, menyambutnya.
"Halo. Prima, ya?" sapanya merdu.
Prima menatap wajah gadis cantik itu tanpa berkata. Matanya menelusuri kaki yang tertutup kain sutra berwarna gading. Tampak lembut dan indah, seolah tidak terjadi apa-apa dengan kaki yang berusaha ditutupinya. Lalu, menatap sekali lagi wajah cantik di depannya, tak ingin percaya bahwa inilah gadis di balik layar monitornya.
"Prima?" sapa gadis itu sekali lagi.
Kini senyum manis di bibir gadis itu memudar. Kekhawatirannya hampir sampai di ujung nyata, ditatapnya pemuda di hadapannya tanpa berkedip. Dada dan tangannya bergetar hebat, entah untuk kesedihan atau bahagia.
"Oh, iya betul. Namaku Prima. Lupita ada?" jawab Prima ragu.
Perlahan Prima melangkah mendekati Lupita, kakinya tak kalah bergetar seperti yang dialami Lupita. Hatinya berbisik menghibur, bahwa gadis yang sedang duduk di kursi roda itu bukan Lupita. Tapi….
"Aku Lupita, Prim. Tidakkah kamu mengenali wajahku?"
Leher Prima tercekat, langkahnya terhenti dan matanya tak berkedip kembali menelusuri gadis yang duduk di kursi roda itu, yang dilihatnya memang benar wajah Lupita. Semakin diperhatikan semakin nyata. Wajah itu sama dengan yang selalu mengisi layar komputernya. Prima tak dapat lagi meyakinkan hatinya bahwa gadis itu bukan Lupita. Tapi, kursi roda itu? Prima hampir tak berani memandang lagi kaki Lupita yang terbungkus rapi. Entah ada apa dengan kaki itu, Prima tak berani bertanya.
"Halo. Ini ya, arjuna yang selalu diceritakan bidadari Papa?"
Belum lagi Prima dapat menenangkan dirinya, seorang lelaki berwajah tampan dan bertubuh kekar muncul di pintu, tersenyum ramah sambil meneliti Prima yang masih berdiri kaku.
"Iya Pa, ini Prima," jawab Lupita tersenyum bahagia, "kenalkan Prim, ini Papaku."
Lelaki itu mengelus kepala putrinya dan menjabat tangan Prima dengan hangat, kehangatan yang membuat hati Prima membeku. Wajah itu tak asing baginya karena setiap hari mengisi layar televisi dengan berbagai perdebatan yang memuakkan hatinya, dan menjadi topik perdebatan yang tiada habisnya di dunia maya, termasuk yang sering dia perdebatkan bersama Lupita. Sekarang lelaki itu berada di hadapannya, menjabat tangan Prima dengan hangat.
"Kamu pasti kaget ya, Prim?" tanya Lupita.
"Kalian sering membicarakan Papa, pastinya. Betul, Prim?" tanya lelaki tampan itu sambil tersenyum kian ramah.
Prima tak menjawab, hanya memandangi kedua wajah itu dengan dingin. Lelaki itu yang membuatnya berkenalan dengan Lupita di dunia maya. Lelaki itu yang selalu diperdebatkannya dengan Lupita apakah dia bersalah atau tidak dalam kasus yang sedang hangat diperdebatkan. Lelaki yang menurutnya telah merampok uang negara, lelaki yang menurut Lupita menyimpan banyak rahasia, yang kini menjadi korban dari percaturan politik negara. Lelaki yang ternyata adalah ayah dari gadis yang telah terlanjur dicintainya.
Tubuh Prima berdiri kaku di hadapan dua insan yang masih tersenyum ramah sambil memandangnya itu. Keduanya menunggu. Prima menjabat tangan keduanya, berbasa-basi sebentar, lalu segera mengundurkan diri dan berjalan cepat ke luar dari rumah dengan halaman luas dan asri itu. Dilarikannya mobil dengan kecepatan penuh, mencoba membuang dan mengusir bayangan gadis yang duduk di atas kursi roda itu dari hatinya.
~
Once in A Lifetime mengalun membawa langkah hati Prima pada persimpangan ujian cinta. Tangannya bergetar ingin mengirim sapa di layar, ingatannya melayang pada pembicaraan terakhir dengan gadis yang ditemukannya di layar itu. Pembicaraan yang tak pernah berhenti memoles cinta untuk semakin kuat melekat di genggaman hatinya, setelah gadis itu menjelaskan perihal kondisi kakinya.
"Aku tidak akan pernah menjalani operasi, Prim."
"Kenapa?"
"Aku sudah mengadakan perjanjian dengan Papa."
"Perjanjian?"
"Ya. Perjanjian dengan Papa."
Prima menatap lekat-lekat tulisan di layarnya, tak mengerti.
“Maksudnya?"
"Kalau Papa bersedia membongkar kebohongan yang diketahuinya dalam kasus bank itu, aku bersedia menjalani operasi."
"Kalau tidak?"
"Aku akan selamanya duduk di kursi roda ini."
Ditatapnya lagi wajah cantik di layar monitor itu dengan hati berlinang. Gadis yang membawanya pada persimpangan ujian cinta. Gadis yang membuatnya merenungi apa sesungguhnya kedalaman dan arti cinta. Bagi Prima merenung itu belum cukup membuatnya meyakini keputusannya, namun waktu berbicara lain. Satu bulan, dua bulan, hingga tiga bulan, Prima hanya termangu memandangi wajah di layar monitornya. Pria muda itu tak ingin menghitung sudah berapa lama layar itu membeku, setelah sapaan demi sapaan Lupita tak dijawabnya. Kini tak ada lagi sapaan indah dan rindu, entah sudah berapa lama.
Lalu, pada hari kesekian, mobilnya melaju di antara jalanan berdebu, mengumpulkan sisa-sisa rindu dan mengetuk kembali pintu rumah berhalaman luas dan asri. Sambal menggenggam cintanya, pria muda itu ngin segera memeluk gadis berhati teguh yang duduk tak berdaya di atas kursi rodanya. Akan dilukisnya cinta yang indah di wajah cantik itu dengan segenap rindu, akan ditemaninya wajah cinta dari balik layarnya itu meniti harapan dan keyakinan.
“Mencari siapa, Dik?” sapa lelaki kekar itu dengan wajah lebih layu dari sebelumnya.
“Lupita ada, Pak? Masih ingat, kan, saya Prima.”
Lelaki itu, lelaki yang sama pada saat kedatangan Prima pertama kali ke rumah besar itu, mengawasi Prima dengan tatapan sulit diartikan. Prima balas menatapnya dengan mengangkat sedkit alis matanya.
“Saya heran Adik tidak tahu.”
“Tidak tahu? Tidak tahu apa, Pak?”
“Non Lupita sudah meninggal Dik, satu minggu yang lalu.”
Prima duduk di balik setir mobil tanpa menjalankan mobil itu. Tak diingatnya lagi penjelasan demi penjelasan dari lelaki kekar itu tentang apa yang menyebabkan Lupita meninggal. Matanya menerawang jauh, entah seberapa jauh, juga entah untuk penyesalan atau duka.
When the true love comes, Kit Rose
:: :: ::
Jika hari ini aku harus mengatakan cinta untuk kesekian kalinya, mengertikah kau, aku sedang berada di persimpangan hingga hatiku terpuruk dalam genangannya. Tapi, aku harus tetap melangkah menyongsong birunya rindu, agar tetap kulihat senyummu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar