Selasa, 18 Desember 2012

Cermin

Scientist mengalun indah meninabobokan mendung pagi
seraut wajah cinta kembali hadir, merebut senyap dan galau di hati
ada tanya di sana menghimpun desir halus
apakah ini rindu?

Tiap bait bawa bisikan nada
semakin dalam jauh ke lubuk hati
menerkam diam untuk kembali bertanya
apakah ini cinta?

Hangatnya menenangkan
perihnya terlupa dan segera hilang
namun
CINTA tidak membuat kata bertanya
semua terendam dalam indahnya pilu
tergenang air mata
syukur

~~

Jatayu menatap Puput tanpa ekspresi. Dilihatnya wajah gadis itu masih datar, entah sedang mencerna apa. Semua kata-katanya seolah tak ada satu pun yang didengarnya. Diambilnya buku di tangan gadis itu.

"Aku tidak peduli Put, jika kamu menginginkan keluar dari sekolah ini."
"Aku tidak bisa terus di sini bersamamu."
"Lihat dan bacalah sekali lagi apa yang ditulis dalam buku ini. Semua berbicara mengenai cinta dan kehidupan."
"Aku sudah membacanya."
"Lalu, mengapa kau tak mengerti juga?"
"Aku mengerti."

Puput mengambil kembali buku panduan mengajarnya, lalu menyembunyikan wajah dengan membaca tak satu pun kata dalam buku itu. Hatinya sibuk melerai tangis yang ingin berebut nampak pada sudut matanya. Tak pernah diinginkannya untuk mencintai lelaki di depannya itu, namun perasaan itu diam-diam menyergapnya tak terhindarkan.

"Kalau cinta buat kamu hanyalah wujud, sebaiknya aku saja yang keluar dari sekolah ini," ujar Jatayu kemudian.
"Tolong, jangan menambah rumit masalah, Yu."
"Kita membagi dan mengajarkan cinta, juga etika di sekolah ini, Put. Aku akan terus mendampingimu di sini. Hanya mendampingi, tidak berdiam dalam hatimu. Karena cinta bukanlah wujud."
"Baiklah, ini hanya tentang aku. Aku akan memperbaikinya."

Kemudian pembicaraan berlalu bersama berlalunya Jatayu begitu saja, membiarkan Puput merenungi langkah tegapnya. Hatinya ingin bicara, namun tak terucap. Ditatapnya lelaki itu semakin menjauh.

"Aku tak pernah menginginkan mencintaimu, sedetikpun tak pernah. Ajari aku bagaimana mengusir perasaan ini," desahnya sambil menghapus air mata.

Lelaki itu sudah menghilang, namun wajahnya masih jelas dalam matanya. Meninggalkan jejak hitam pada kelopak hatinya yang semakin menghitam. Menjadi pengajar dalam bidang yang sama dengan lelaki itu tak pernah dibayangkan oleh Puput sebelumnya. Materi yang mereka berikan pada siswa-siswi di sekolah itu tidak mudah baginya. Etika dan cinta kasih adalah hal yang cukup rumit. Puput merasa dapat melihat dan melakukan dua hal tersebut dalam kehidupannya, namun begitu sulit dalam memberikan pengertian pada siswa siswinya. Namun, mata Jatayu yang memerah menahan marah mengurungkan niatnya untuk pergi dari sekolah kecantikan dan modeling itu. Puput berjuang menahan diri, bahkan menahan perasaannya.

~

Malam berikutnya.
Puput terdiam, menekuni getar dalam dadanya, mencermati rasa yang belum pernah disinggahinya. Ditatapnya Jatayu tak percaya, berdiri di depannya dengan senyum hangat.

"Apakah dia telah mengerti aku mencintainya?" bisiknya dalam hati.

Jemarinya dingin membeku saat tangan kekar Jatayu terulur, menggenggamnya dengan hangat. Semua kepedihan yang masih harus dia pelajari seketika lenyap, berganti aroma indah dan kebahagiaan.

"Apa kau takut?" tanya Jatayu lembut.
"Sedikit."
"Pejamkan matamu," pinta Jatayu.

Tanpa berkata Puput memejamkan matanya perlahan, berharap malam segera berlalu, namun hatinya masih ingin menikmati getar ngilu itu, saat tangan Jatayu merayap ke lehernya yang jenjang.

"Apa kau mencintaiku?" bisik Jatayu di telinganya.
"Sangat."
"Aku juga mencintaimu, tidakkah kau tahu itu? Tidakkah kau dapat merasakannya?"

Sesaat gadis itu ingin meronta, namun tangan hangat, napas menggelora itu, menghantar mimpi indah tentang kemesraan dan indahnya saja. Tak lama dirasakannya bibir hangat itu menyentuh leher jenjangnya perlahan, dan kehangatan semakin menjalar tak dapat dia hindari lagi. Bibir mereka pun bertaut, mengukir getar fatamorgana, dan menghantar Puput dalam indahnya cinta. Semakin dalam, menguras haus.

"Aku mencintaimu Put," bisik Jatayu lagi di sela napas tersengalnya.

Gelora terpancar dari sinar matanya yang segera meredup. Puput menutup matanya lagi, ingin meyakinkan diri bahwa ini nyata.

"Aku tidak mendengarnya."
"Aku mencintaimu."
"Apakah seperti yang kurasakan?"
"Lebih dari itu."

Dan, malam menjadi menjadi saksi mimpi, ketika Puput terbangun oleh merduanya suara ayam berkokok dan indahnya kicauan burung pada dini hari. Mentari mengintip dari balik tirai, membuyarkan lamunan dan mimpi tentang indahnya cinta sesaat, menyongsong pagi tanpa fatamorgana. Gadis belia itu duduk tertegun, dilemparnya bantal yang tadi digigitnya, lalu melompat berdiri mencari secarik kertas dan menuliskan kalimat untuk hari indahnya. Senyumnya melucuti semua kepedihan yang dikiranya duka. Wajahnya memerah menahan malu tak terbilang. Diacaknya sendiri rambut panjangnya sambal berdecak kesal sebelum menulis dengan cepat.

Aku akan mensyukuri adanya cinta ini, biarlah tetap indah, dan mengabarkan pada hatiku, di balik kelam itu ada keindahan. Hai Puput, sadarlah, hidup ini bukan hanya tentang cinta yang wujud, masih banyak yang harus kau pelajari. Kemudian berdiri di depan cermin, memandangi senyumnya yang pagi ini menjadi lebih ceria. Dibiarkannya rasa cinta bersemi di dalam hatinya, tak berbalur keinginan, hanya doa agar cinta itu tidak menyakiti. Dibiarkannya rindunya menggema dalam dada, tak berlumur duka, hanya alunan saja, menjadikan cinta lebih bermakna pada kehidupan.

Don’t fotget me, Kit Rose

:: :: ::
Tak ada yang lebih indah dari mimpi malam ini, aku tahu itu. Tapi, ingatlah, pagi segera menjemput, aku hanya ingin mengingatkanmu. Dan, kembali kita akan bergumul dengan kenyataan. Sadarilah, air mata hanya cermin kehidupan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar