Kalian tak akan mengerti
Apa reruntuhan, atau bahkan puing?
Nikmati yang dapat kau gali, sertakan seribu janji
nun jauh di sana di dasar diri yang tak akan dapat kau resapi
Apa?
Senyum atau tubuh ranum?
Atau
sapaan merdu untuk hausmu?
Ambil yang ingin kau raih
sertakan tera di ujung kepuasan sesaatmu itu
Lalu
dengarkan alam berbisik
telah kau hancurkan satu simpul hati
bahkan dari sebuah simpul hati yang hampir ingin bertaut
Kau tebas seketika hingga tak dapat kau sadari
telah kau asah satu bilah kesakitan
di balik senyum dan tawa
mengintip duka dan
lara
~~
“Wahai Engkau pemilik kehidupan, pemilik segala kekuatan, dimanapun Kau berada, di kedalaman lautan, di atas langit, jika Kau memang ada di sana, mohon rendam tubuhku ini dengan keganasanmu, basuh angkara yang merajam habis tubuh hatiku. Aku akan tetap diam dan menikmati sakit ini bersama senyumku, tapi bersihkanlah keseluruhan diri ini dari kebencian dan dendam,” bisik Prastiti pada laut tenang di hadapannya hamper putus asa ditatapnya air tenang di hadapannya, mencari pijakan agar tak menangis.
Tak lama angin berhembus. Perlahan namun pasti, bertiup elok mendekati Prastiti yang masih berdiri tegak di tepi pantai. Matanya tajam mengawasi, dengan tenang menatap jauh ke ujung lautan luas yang sedemikian tenang dan menghanyutkan. Sementara beberapa binatang kecil perlahan merayap ke tengah lautan, bergidik beradu tatap dengan mata Prastiti. Jemari perempuan itu menegang dan saling meremas, menahan sesak di dadanya.
“Peluklah aku wahai ombak, akan kuserahkan cinta tak bertepi ini pada alam di sekitarmu, juga pada penantianku tentang wajah dalam heningku.”
Probo memekik tertahan sementara Bu Sastro menjerit histeris ketika tiba-tiba menyaksikan pemandangan tak terduga di depan mereka. Ombak besar dan tinggi dengan ganas menggulung tubuh Prastiti tanpa dapat dicegah. Dalam hitungan detik tubuh Prastiti lenyap dalam gulungan ombak. Probo berdiri kaku menatap gulungan ombak di depannya, sementara Bu Sastro tersungkur di pasir pantai hendak menggapai putrinya.
“Titi, kenapa kamu selalu bermain-main dengan laut, Nak? Bocah bodoh! Duh Gustiii, kenapaaa?” jeritnya sambil bersimpuh di pasir memandangi gulungan ombak di depannya.
Matanya rapuh mencari-cari tubuh putri kesayangannya yang menghilang dalam gulungan ombak.
Namun, matanya terbelalak ketika menyaksikan gulungan ombak itu berangsur bergeser, melepas tubuh Prastiti dengan lembut, lalu kembali mengalir dengan tenang ke tengah lautan. Setenang senyum Prastiti yang segera basah kuyup dan berlari riang mendekati ibunya.
“Ibu tidak akan lagi mengizinkanmu pergi ke pantai, apapun alasanmu,” desis Bu Sastro sambil mengusap air matanya.
Sorot matanya tajam, memerah antara airmata dan menahan murka. Ketakutan tersirat di mata itu. Prastiti melihatnya dengan penuh tanda tanya.
“Ibu kenapa, sih? Titi hanya ingin berbasah-basah, Bu.”
“Ini sudah kesekian kalinya kamu buat dada Ibu sakit dengan air laut itu. Dan, kamu Probo. Berapa kali Ibu memintamu untuk mengawasi Prastiti saat berada di pantai?”
Probo dan Prastiti saling menatap. Sementara Bu Sastro melangkah meninggalkan putri dan menantunya dengan wajah penuh amarah. Prastiti mengikuti langkah Ibunya dengan tatap keheranan, lalu dengan patuh mengikuti langkah suaminya. Probo berusaha meraih kembali senyum Ibu mertuanya dengan berbagai topik pembicaraan, namun mendung masih membayang di mata tua itu.
~
Perjalanan pulang menjadi beku. Probo tak berani lagi membuka mulutnya, sementara Prastiti banyak menundukkan kepala. Bu Sastro diam menatap keluar kaca mobil. Wajah ayahandanya terbayang di kejauhan, suaranya menggema kembali di telinga perempuan tua itu.
“Aku ndak suka liat anak gadismu suka termenung di pantai, Wuk,” sungut mendiang Ayahanda Bu Sastro sekian tahun silam, saat putrinya masih remaja belia.
“Ada apa memangnya, Romo?”
“Hmm… kamu sudah pinter rupanya, ya? Sudah mulai berani banyak tanya?”
“Eh, bukan begitu, Romo. Sendiko dawuh, saya akan mengawasi Prastiti agar tidak terlalu sering berada di pantai.”
Kini Bu Sastro hanya bisa menyesal, mengapa dulu dia tidak mencari tahu, ada apa sebenarnya dengan lautan dan putrinya. Beberapa kali peristiwa aneh terjadi saat putrinya berada di pantai, membuatnya makin takut dan bertanya-tanya sendiri. Angin senja di luar mobil bertiup perlahan, Bu Sastro menarik napas, menyandarkan kepala dan menutup matanya, berusaha mengusir gundah.
~
“Mau ke pantai pasti, ya?” tanya Prastiti sambil menyiapkan pakaian Probo.
“Iya, maaf ya aku tak mengajakmu. Selain Ibu pasti tidak akan memberi izin, kamu kan sedang hamil, jadi harus banyak istirahat.”
“Jadi, aku sendiri lagi ke dokter?”
“Maaf Titi, aku nggak enak menolak ajakan teman-teman kantor.”
“Nginap berapa hari?”
“Mungkin tiga hari, tapi tak perlu khawatir, kan temanku lelaki semua.” Probo tertawa menggoda sambil menjentik ujung hidung istrinya.
“Ya sudah, hati-hati, ya.”
Prastiti mencium punggung tangan Probo sambil menyembunyikan airmata. Senyum dan wajah cerianya membuat Probo melangkah dengan riang, tak menyadari Prastiti sedang menggenggam ingatannya tentang pesan singkat yang tak sengaja terbaca olehnya pada telephone genggam Probo pada dua malam sebelumnya.
Sabtu nanti jadi menginap di pantai kan, sayang? Aku tunggu di tempat biasa, ya. Jangan terlambat lagi. Pengirim: Rindu
“Aku tak pernah menemukan wajah cinta di balik mimpi-mimpiku, Probo. Akan kupersembahkan apapun yang kau inginkan dariku. Tapi, jika laut dan kebohongan itu adalah pilihanmu, aku tak dapat berjanji apapun. Untuk kesekian kalinya kau lakukan ini, aku akan tetap tersenyum padamu andai esok kau lakukan lagi. Semoga harimu menyenangkan,” bisik Prastiti sambil mengawasi langkah suaminya.
~
Dua malam Prastiti memoles hatinya dengan Nyanyian Cinta, diam bersenggama dengan malam, menatap senyum lembut dari Wajah Cinta di dalam heningnya. Malam berikutnya, senyum lembut di matanya yang sayu itu terkoyak oleh ketukan keras di pintu, dan suaminya berdiri di sana dengan wajah seputih kapas, ditemani beberapa petugas polisi.
“Ada apa, Mas?”
“Maaf Bu, Ibu siapa?”
“Saya istri Mas Probo, Pak.”
Keempat polisi itu menatap Prastiti dan Probo bergantian. Wajah pucat Probo semakin pias, menunduk tanpa dapat berkata satu patah kata pun.
“Maaf sekali lagi, Ibu mengenal saudari Rindu?”
Tubuh Prastiti seperti tersengat listrik tegangan tinggi, dadanya berdetak nyeri sebelum menjawab, “Oh, kalau itu maksud Bapak, Rindu adalah istri kedua suami saya." Prastiti melirik suaminya sebelum berkata lagi, “Ada apa ini, Pak? Kenapa dengan Rindu? Kenapa pula suami saya harus pulang bersama Bapak sekalian?”
Para petugas polisi itu menarik napas bersamaan, kemudian salah satunya berkata, “Oh, saya paham sekarang. Begini Bu, dua malam lalu saudari Rindu tenggelam di laut terbawa ombak, dan sampai malam ini jenazahnya belum dapat kami temukan...”
“Ya, Allah….” Tubuh Prastiti mengejang.
“Sementara pencarian dihentikan dulu, besok kami lanjutkan, dan Pak Probo akan kami jemput kembali. Selamat malam.”
Setelah para petugas berpamitan dan berlalu, sangat perlahan, dengan jemari gemetar, Prastiti menutup kembali pintu rumahnya. Dengan tubuh tak kalah bergetar ditatapnya Probo yang sedang bersujud di kakinya. Angin malam pun enggan tersenyum, namun Prastiti menyimpan jerit hatinya agar janin dalam kandungannya pun tak menangis.
“Maafkan aku, Titi. Marahlah dengan cara apapun, tapi aku mohon maafkan aku.”
Prastiti menghela napas melonggarkan dadanya, menarik tubuh suaminya agar berdiri dan berkata, “Minta maaflah pada hatimu, Mas. Aku tidak tahu harus bersikap dan berkata apa.”
“Dari mana kamu tahu kami sudah menikah?”
Blam!
Terhuyung tubuh Prastiti mendengar pertanyaan suaminya. Semakin kosong mata sayu itu menatap lelaki di hadapannya, namun segera disudahinya amarah yang semakin menggebu ingin memeluknya.
“Tadinya…, aku tidak tahu, aku hanya ingin menyelamatkan Mas dari rasa malu di hadapan para polisi itu, tapi sudahlah, izinkan aku istirahat dulu, Mas.”
Probo mengejar langkah istrinya dan menarik tangannya, “Jangan bersikap seperti ini, Titi. Aku mohon, marahlah.”
“Istirahatlah Mas, besok banyak yang harus Mas lakukan. Aku lelah.”
Prastiti menguatkan langkahnya, terhuyung menuju pembaringan beku. Ingin dimuntahkannya semua rasa sakit di dada, namun wajah layu Probo membuatnya memilih menikmati sakit dalam diam. Dipejamkannya mata perlahan menahan air mata, tak ingin melihat apapun yang ingin terlihat. Wajah cinta dalam hatinya tersenyum menenangkan, membelai lembut mengantar Prastiti mengurai luka.
Cerita pengantar rindu untuk penantian dan perjalanan panjang, Kit Rose
:: :: ::
Cinta, pengorbanan, dan pengabdian, tak harus berbalas, alam sudah menghitung semuanya. Desah sakitnya menggema tanpa satu jeda pun, menyelimuti tubuh dengan seksama dan segera, lalu hempaskan segala rasa pada nada dan irama, bergulung menembus ketakberdayaan di antara kesakitan dan indahnya persembahan cinta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar