Selasa, 18 Desember 2012

Bahasa Cinta

Pelangi memudar di kejauhan
berangsur menghitam dalam nuansa hatiku

Semua warna kuhitamkan
bersembunyi dari putaran perjalanan cinta
agar dapat kulihat putih dan warna warninya

Kurengkuh galau hati dalam diam
terus berlari mengejar mimpi
dengan bahasa cinta

Segera
senandung asa bergerak, hembuskan Nyanyian Surgawi
pada setiap hati yang sepi dan merindukan Nyanyian Cinta

Kala cinta terukir dan temukan bentuknya dalam tiap nada
bahasa cinta segera mengalun merdu
kepakkan sayapnya
meniti langkah tanpa henti

~~

Tierose menghempaskan tubuhnya di sofa usang pada sudut ruangan. Ruangan untuk para guru, yang lebih mirip sebagai ruang serba guna karena segala macam peralatan ada di sana, baik peralatan musik dan lainnya. Dihirupnya teh hangat yang telah disediakan untuknya, lalu ditatapnya tumpukan buku yang belum sempat disentuh oleh pengajar sebelum dirinya. Beberapa tumpuk lagi adalah lembar ulangan yang juga belum sempat diperiksa.

Hari ini adalah hari pertama Tierose mengajar di sekolah itu. Banyak pemandangan yang membuatnya harus berpikir sejenak, apa yang harus dilakukannya di hari pertama ini. Sekolah itu lebih menyerupai sebuah panti atau asrama. Beberapa murid tidak mengenakan seragam seperti yang sudah ditentukan, hingar bingar musik dan suara teriakan terdengar nyaring dari beberapa kelas. Beberapa guru juga dilihatnya tanpa persiapan sebelum melangkah memasuki kelasnya masing-masing.

Tierose menghela napas lega ketika Pak Marwo, petugas administrasi, memasuki ruangan dan segera mengajaknya ke kelas yang harus dia masuki untuk pertama kali. Ditatapnya satu per satu ruangan kelas yang dilewatinya dari kaca jendela. Sampai di depan kelas paling ujung Pak Marwo berhenti dan mempersilakannya masuk.

"Di sini mayoritas anak tentara dan orang-orang berpangkat. Hati-hati memperlakukan mereka," pesan Pak Marwo sebelum berlalu.

Tierose mengangguk, kemudian memasuki ruangan kelas itu dengan takjub. Ditelitinya Rencana Program Pengajaran yang tergeletak penuh debu di meja, terlihat seperti tidak pernah disentuh. Ditatapnya satu per satu murid yang masih mondar-mandir keluar masuk kelas, mencari cara menakhlukkan hati anak-anak yang terlihat sudah membatu itu. Mereka mengusik kesabaran Tierose dengan memasang suara Grits dengan My Life Be Like, memenuhi ruangan kelas itu sambil beradu gaya bagai di lantai diskotik.

"Anak manja, korban pergaulan dan salah asuhan," bisik Tierose dalam hati.

Diambilnya spidol besar berwarna merah dan menuliskan sebuah pengumuman di papan tulis yang masih terlihat putih bersih dan mengkilap. Tak pernah dipakai.

Saya berikan waktu lima belas menit lagi untuk menikmati musik ini. Bagi yang gerakannya bagus dan tertib akan mendapatkan nilai tujuh untuk pelajaran saya. Terima kasih.

Lalu, duduk dengan tenang, memperhatikan satu per satu anak-anak itu. Beberepa anak saling berbisik membaca pengumuman yang dituliskan Tierose, beberapa hanya tertegun, dan banyak yang tidak peduli. Mata Tierose tertarik pada satu anak lelaki berwajah keras dengan mata tajam, rambut sebahu dan baju tak ada bentuknya. Diamatinya anak yang terlihat sangat menikmati gerakan tariannya itu diam-diam.

Lima belas menit kemudian dimatikannya tape recorder di sudut kelas, dicabutnya kabel dari saklar, dan disimpannya benda itu di lemari arsip, lalu dikuncinya dan memasukkan kunci ke dalam tasnya. Kelas seketika hening, tak lama berubah menjadi ramai dan panas.

"Hei, Guru Baru! Itu punyaku!" teriak si wajah keras dengan marah.
“Oke, nanti bawalah pulang usai pelajaran."
"Apa-apaan ini? Kenapa musiknya dimatiin?" teriak si genit.
"Baca tulisan di papan," jawab Tierose tenang.
"Guru gila kali ya, ini," balas si jangkung.
"Ya, saya gila dan kalian harus menuruti semua aturan main saya kalau tidak mau melihat kegilaan saya yang lain."

Tierose menatap tajam semua mata satu per satu, tepat di bola mata mereka. Dan, seperti disihir anak-anak itu beringsut duduk di bangkunya masing-masing. Pelajaran pun berlangsung dengan hening.

Hari itu berjalan dengan penuh ketegangan. Kepala Sekolah dan guru lain hilir mudik di depan kelas, mengamati keadaan kelas dari luar. Mereka tak percaya hari itu salah satu ruangan kelas menjadi senyap dan murid-murid duduk dengan rapi. Mereka menolak belajar, tapi tak ada yang berani mengulang keonaran setelah melihat si Jangkung digunting ujung kemejanya oleh Tierose karena menolak memasukkannya ke dalam celana seragam. Mereka memilih mendapatkan nilai tujuh untuk pelajaran bahasa dengan bersikap tenang.

~

Pada hari ketiga puluh ini Tierose terlihat lebih santai dalam menghadapi tingkah laku murid-muridnya. Diletakkannya diktat program pelajaran yang sudah dirapikannya untuk satu bulan ke depan, dan diambilnya tumpukan kertas hasil ulangan murid-muridnya.

"Fero dan Mei, maaf ulangan kalian tidak bisa Ibu nilai karena semua jawaban sama persis."
"Maksudnya?" tanya Mei.
"Kalian mengulang."
"Bangsat!" gerutu Fero hampir tak terdengar, namun sampai ke telinga Tierose.
"Terima kasih, Fero. Ini untuk kesekian kalinya kamu memaki Ibu, jangan sampai Ibu mendengar lagi kata-kata tak sopan darimu. Untuk kamu Mei, walaupun kamu mengulang, Ibu memberikan nilai tujuh karena hari ini sikapmu manis dan rapi."
"Tapi, kenapa saya harus mengulang, Bu?" tanya gadis itu tak puas.
"Karena Ibu tidak tahu dengan pasti, hasil ulangan siapa yang bukan contekan. Untuk itu agar adil, kalian berdua mengulang."

Kelas sepi. Gadis mungil Mei menundukkan wajahnya. Diliriknya Fero yang sudah merekam semua jawaban ulangannya dengan sengit. Tiba-tiba keheningan dalam kelas itu hancur oleh suara kaca pecah. Semua mata mengarah pada jendela kaca yang sudah hancur, lalu dengan wajah ketakutan menatap Fero.

"Fero, tolong besok siapkan uang untuk menggantikan kaca yang kau lempar itu. Jumlahnya tanyakan pada petugas administrasi." Tierose berkata dengan tenang dan melanjutkan pelajaran seolah tidak terjadi apapun. Disimpannya amarah dengan segera melanjutkan pelajaran babak berikutnya. Guru muda itu bertekad tidak akan menyerah begitu saja.

"Dasar guru mata duitan!" Tiba-tiba terdengar suara Fero.

Ruangan kelas itu semakin senyap dicekam ketakutan. Tierose meletakkan bukunya, berjalan perlahan ke bangku Fero, lalu mencengkeram kerah bajunya dan berbisik dengan tajam, "Liburlah dulu satu minggu, Sayang. Lihatlah di luar sana banyak anak yang tidak seberuntung dirimu."

Paaak...!
Sebuah pukulan dari tangan Tierose mendarat di meja Fero. Buku-buku dan alat tulis di sana pun berceceran di lantai. Tak ayal, semua mata membesar menatap guru dan murid itu.

"Silakan keluar dari ruangan ini. Jangan pernah berani duduk di kursi ini sebelum kamu menyadari kesalahan kamu, dan mengerjakan semua tugas yang kuberikan. Mengerti?"

Lalu, diseretnya Fero dan didorongnya pelan keluar kelas. Semua mata saling menatap ketakutan, dan segera menyibukkan diri dengan pelajaran yang tiba-tiba disukai oleh seluruh murid di kelas itu.

~

Hari berikutnya, Tierose dipanggil untuk menghadap Kepala Sekolah dengan tujuan dan isi pembicaraan yang sudah dapat diduganya. Perlahan dibukanya pintu ruang Kepala Sekolah setelah mengetuknya beberapa kali. Ternyata tidak hanya Tierose yang dipanggil untuk menghadap. Di sana sudah berkumpul guru-guru yang lain, dengan wajah tegang. Tierose menutup kembali pintu di belakangnya dan mengangguk pada guru yang lain sebelum memberi salam pada Kepala Sekolah.

"Selamat pagi, Bu," sapanya dengan sopan.
"Pagi. Silahkan duduk."

Perlahan Tierose mengambil kursi kosong di dekat meja Kepala Sekolah. Matanya meneliti wajah guru-guru di sana, semua menundukkan kepala, tak ingin beradu pandang dengan Tierose. Bu Meyke menutup buku agendanya sebelum memulai berbicara.

"Saya sangat berterima kasih pada Bu Tierose. Baru mengajar di sini satu bulan sudah memberikan dampak yang positif untuk sekolah kami," kata Bu Meyke, sang Kepala Sekolah, sambil menurunkan kaca matanya dan menatap Tierose tajam.

Tierose membalas tatapan itu dengan senyum lembut, sementara guru yang lain hanya menundukkan kepalanya, menunggu sidang dimulai.

“Terima kasih, Bu," jawab Tierose.
"Tapi, saya minta kejadian pemukulan itu jangan diulangi lagi."
"Bukankah saya sudah jelaskan duduk persoalannya, Bu?"
"Saya menerima penjelasan Anda, tapi sayangnya orang tua Fero tidak. Hari ini beliau akan datang dan ingin bertemu dengan Anda. Dan, saya mohon maaf jika nanti saya terpaksa mengikuti permintaan beliau untuk mengeluarkan Anda."

Ruang rapat hening. Semua guru menghindari tatapan mata Kepala Sekolah dan segera menundukkan kepala lebih dalam, kecuali Tierose. Matanya tajam menatap perempuan di depannya. Sekarang terjawab pertanyaannya, mengapa di sekolah ini sering terjadi pemecatan guru. Lalu, keheningan itu terburai oleh suara ketukan di pintu. Seorang guru lelaki tergopoh-gopoh membuka pintu sementara guru-guru yang lain cemas menatap pintu.

Seorang lelaki tinggi dan kekar memasuki ruangan dengan langkah gagah dan angkuh. Berjalan tegap, menjabat tangan Kepala Sekolah, lalu duduk di kursi yang telah disediakan. Suasana benar-benar menjadi tegang dan dingin. Lelaki itu mengitari ruangan dengan pandangannya, lalu berhenti pada Tierose. Tierose membalas tatapan tajam itu dengan tegar. Dihentikannya takut dan amarah dengan Nyanyian Cinta. Meyke memandang dengan tegang pertemuan dua tatapan tajam itu dalam kesunyian. Tiba-tiba lelaki itu tersenyum dan berdiri menghampiri Tierose.

"Pasti Anda guru baru itu," sapanya ramah.
"Betul."
"Perkenalkan, nama saya Hapsa, orang tua Fero." Lelaki itu mengulurkan tangannya dan menjabat tangan Tierose dengan erat.
Semua mata menatap makin tegang.
"Tierose."
"Senang sekali berkenalan dengan Anda."
"Terima kasih."
"Dan, senang sekali anak saya bertemu dengan guru seperti Anda. Sekarang dia sedang mengerjakan semua tugas sekolah yang selama ini tidak pernah dikerjakannya. Ibunya seharian menangis melihat perubahan putra yang sangat dicintainya itu. Dia menitipkan salam pada Anda."
"Oh… Saya senang sekali mendengarnya, Pak."

Pembicaraan menjadi semakin mencair dan lancar. Tierose tersenyum sambil melirik Kepala Sekolah dan teman-teman gurunya. Disodorkannya Rencana Program Pengajaran yang tak disetujui pagi tadi. Ruangan dingin itu mendadak menjadi hangat dan ramai oleh tawa dan canda. Kepala Sekolah memberikan waktu pada guru baru itu untuk beristirahat satu hari di rumah, sambil mempersiapkan diri untuk mengemban tambahan tugas sebagai guru Bimbingan dan Penyuluhan.

~

Tierose melangkah ringan meninggalkan sekolahnya menuju tempat parkir di belakang halaman. Dari jauh dilihatnya seorang siswa duduk di tepi lapangan olah raga. Dihampirinya lelaki muda itu, yang segera membuang mukanya begitu melihat Tierose datang menghampiri.

"Selamat pagi, Andre," sapanya ramah.

Sang murid membisu, tak mau sedikitpun membalas sapaan Tierose bahkan senyum sopannya. Tierose tidak menyerah. Disapunya lantai dengan tangannya, lalu duduk di sebelah pemuda itu. Andre segera menunjukkan raut wajah dan sikap bermusuhan.

"Kenapa kamu duduk di sini? Matahari sudah mulai panas dan kamu meninggalkan kelas tidak untuk berjemur, bukan?"
"Sekarang Ibu sudah puas?" sembur Andre penuh kebencian.

Tierose mengernyitkan dahinya, tidak mengerti arah pembicaraan. Mata Andre jelas sekali penuh kebencian menatapnya.

"Aku tidak mengerti maksudmu, Ndre," jawabnya lembut, "Kalau ada yang ingin kamu sampaikan, sampaikanlah tanpa amarah, agar kita dapat membicarakan permasalahanmu dengan santai."
"Ini semua gara-gara Ibu. Sebelum Ibu datang ke sini, saya tidak pernah mendapat hukuman hanya karena masalah seragam."
"Oh, begitu. Lalu, mengapa kamu tidak mengenakan seragam seperti yang seharusnya?"
"Saya tidak seperti mereka, Bu. Saya di sini benar-benar untuk belajar. Sayangnya saya tidak seberuntung mereka. Sekedar seragam saja orang tua saya tidak mampu membelikan. Selama ini tidak ada masalah, karena teman yang lain juga banyak yang lebih suka pakai baju aneh-aneh. Sekarang saya benci sama Ibu."

Andre beranjak berdiri dan hendak meninggalkan Tierose. Ditariknya tangan anak itu sambil berkata lembut, "Aku tadi sudah bilang, kita bicarakan masalahmu dengan cara yang baik, kan?"
"Percuma."
"Besok kamu ambil semua paket seragam di koperasi sekolah. Bilang pada petugas di sana, Ibu yang akan bayar semua."

Andre menatap Tierose hampir tak percaya. Tatapannya dibalas senyum dan anggukan oleh Tierose. Seketika pemuda itu berteriak dan melompat kegirangan dengan tawa dan semangat baru. Dihampirinya sang guru, segera diciumnya punggung tangan yang lembut dan dingin itu. Sinar matahari menghangat mengiringi langkah murid dan guru, meniti langkah baru dengan bahasa cinta yang kian biru.

Pahamilah bahasa cintaku, Kit Rose

:: :: ::
Aku melaju perlahan berbaur dengan panas, namun alunan merdu dari hatiku sangat meneduhkan. Akan kukatakan dan kusapa kalian dengan bahasa cintaku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar