Angin biru menerpa wajah halus pias hampir mati,
tak ada lagi hati mencari,
langkah mengalun ikuti irama Cinta.
Rintihnya alunkan gelombang membara pada gelora membisu,
menggeliat di antara rindu dan lapar,
terbangkan nada dan irama suci.
Menerjang kubah mimpi pada batas asa di tepi maut,
dan terkapar mencari sisa nikmat tak berbekas.
Menyulam terang dan terbang,
siang pun sudah tertera dan burung sudah bersayap.
Gunung dan mendung telah bersahabat,
bagai nada dan lagu berirama.
Lalu,
panas menyusut menjadi senja,
tak perlu lagi hati meradang suarakan pilu,
di sana Kekasih kirimkan kehangatan dari bilik lain.
Malam mengembang suarakan rindu,
dalam senyap ini masih tersisa lelah nan pasrah,
wajah pecah di depan kaca cermin,
hanya pantulannya saja bawakan rasa sakit.
Sang Kekasih hantarkan nikmat dari bilik lain sebuah hati.
~ Puisi Melukis Langit bagian 5
Tidak ada komentar:
Posting Komentar