Kaki basah berdarah menerjang badai,
tetap kulalui walau ingin berhenti,
lalu tubuhku menghitam,
dan semakin pekat.
Ketika alunan takbir berkumandang aku masih melawan badai,
mencari tempat berpijak untuk bimbang menggiring hati,
dan di sana Dia masih menatap dengan lukisan-Nya,
memanggilku untuk sejenak meletakkan lelah,
menatap bingkisan lukisan Cinta untukku,
lalu terhempas dalam pusaran rasa,
dan kembali ke titik kosong.
Ketika hati tak mau berhenti alunkan nyanyian cinta-Nya,
hitam membungkusnya dengan derai air mata pilu,
ada kekuatan Cinta tersusun dengan indah,
walau oleh hati yang telah terburai.
Ketika angin bertiup hempaskan segala asa,
keyakinan akan Cinta ada di sana,
akhiri yang telah dimulai dengan keyakinan Cinta walau hitam,
Dia menunggumu di ujung persimpangan hati.
Akan kubawa hitam yang kau sematkan ini,
sampai kau tahu apa arti hitamku,
lalu melangkah ke titian Cinta,
dan akan kukirim hitamnya rindu dan cintaku untukmu.
~ Puisi Melukis Langit bagian 4
Tidak ada komentar:
Posting Komentar