Aku berjalan tak pernah lelah
mencari teman bercinta menebar bias rindu
pada redup mata senja memandang duka
menanti prahara kian meradang segera berakhir
bilakah meredup bara di sana?
saat kusadari ternyata semua telah tak ada
Bagai sampan di tengah laut
kutabur butir-butir cinta
kadang tak ingin mengayuh
tetapi di sana ada wajah menanti di ujung pantai
entah sampai kapan aku tiba di sana
akankah benar-benar terselip satu cinta di antara puing hati?
Aku ingin berlari saat dia ucapkan rindu dan cinta
namun kehangatannya menahan langkahku
dalam kehausan tiada tara aku menanti
saat dia benar-benar mendekapku
Lalu sepotong cintaku bertaut di perbatasan waktu
bagai tangan dan mata terangkai indah pada tempatnya
walau di malam bisu
tak akan keduanya saling menyakiti dengan sengaja
Dan jika salah satu hati tersakiti
penggal saja satu tangan agar mata tetap dapat melihat cinta
Perjalanan panjang kuarungi dalam pencarian dan kerinduan
sampai di ujung lorong kelu namun berteman temaram cinta
butirannya memoles segala luka dan sepi
menikmati sepotong wajah cinta tak tergapai
Indah, tak harus memiliki, namun tetap dapat berbagi
~ Puisi Melukis Langit bagian 7
Tidak ada komentar:
Posting Komentar