Ketika kucoba memahat kaki langit untuk menjadi kakiku
tertatih aku melangkah dalam gelap tanpa pijakan
hujan dan badai mengemas dukaku dalam tawa ceria
Lalu
kau merayap datang dengan lukamu
kupoles dengan senyum dan airmataku
segera kau berikan tongkat pemandu langkah
pengganti kaki yang hilang
Kugenggam erat dan aku mulai meniti hari
satu per satu kuayun langkah hampir tegar
entah apa kini yang harus kulukis
saat kau berjingkat memangkas tandas tongkat kaki peniti hariku
Kenapa kau biarkan aku percaya pada kata-katamu?
Kenapa aku masih percaya pada angin yang kau tiupkan?
Kau sempurnakan deru kesakitan di sini
dan kau tak tahu aku masih tersenyum
bersama angin sepoi pada setiap pematang rindu
Selamat berbahagia dengan kisahmu saja
Tidak ada komentar:
Posting Komentar