aku melangkah gontai di tepian jalan tandus dan berliku
tiada lagi mantra cinta dihembuskan pada hausku yang semakin kering
tak ada lagi gemerlap naungan dari panas dan hujan
tak ada lagi sentuhan lembut yang dapat mengikat hati dari rasa
mataku terus menatap
namun di depan semakin gelap
hatiku merintih mencari pijakan cinta
tanganku gemetar ingin membuka kepalan kian menggigil
lalu
kudapati pusara beku di sini
haruskah aku meratap ataukah bersedih?
mengapa kini hatiku masih juga ingin menangis?
saat kutahu pusara ini bukan untukku
aku kini hanya melangkah
menggenggam hati
agar tak ada air mengalir dari sana
dari bola mata kian lelah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar