Psikofiksi!
Begitulah kesan yang diberikan penerbit ketika menerima naskah kumpulan cerpen Tentang Rasa. Terima kasih untuk Gerbang Madani yang telah bersedia menerbitkan buku kumpulan cerpen Tentang Rasa.
Rasa, termasuk di dalamnya adalah cinta, rindu, sakit, dan sebagainya. Indahnya cinta, rindu, dan penantian, akan menjadi lebih indah bila kita bisa memberikan kebahagiaan bagi siapa saja, tidak terbatas pada orang yang kita cintai dan rindukan. Masih banyak yang bisa kita lakukan dengan cinta selain merenungi dan menyesalinya. Kadang yang bisa kita lakukan hanyalah diam, saat kita tahu orang yang kita cintai ternyata menaruh hati pada orang lain dan berada di tempat lain. Inilah hidup, yang tetap harus kita syukuri.
Bagi sebagian orang, cinta dan rindu sangat rumit. Apalagi jika tidak tertampung dan tidak tersalurkan sesuai dengan yang kita harapkan, atau seperti yang sudah seharusnya menurut kita. Hanya menepuk angin atau bertepuk sebelah tangan, kata beberapa teman yang sudah membaca cerpen-cerpen ini. Tapi, melalui kisah-kisah ini, saya ingin meyakinkan pembaca bahwa ada cinta yang sangat indah dan sangat luar biasa, hingga kita mampu menampung banyak cinta itu dan menjadikannya sebagai kekuatan untuk berbagi, yaitu cinta-Nya. Cinta yang berasal dari-Nya, yang tidak menyakiti dan menuntut.
Bagaimana bisa membuang dendam karena sebuah pengkhianatan? Tentu saja dengan ketulusan dan keikhlasan, juga rasa syukur. Cinta, sakit, dan rindu itu akan terhempas, terbawa oleh kesejatian diri, kesadaran bahwa Rasa dan Misteri adalah anugrah. Kesetiaan membutuhkan banyak sekali mengorbankan rasa, namun pengorbanan itu tak akan berarti apa-apa tatkala kita menyadari segala anugerah-Nya yang telah tercurah untuk kita.
Demikianlah rasa dan cinta, banyak sekali warnanya. Jangan biarkan hati menyempit oleh sakitnya agar bisa kita lihat misteri tentang rasa. Ibarat membalut luka, tidak bisa sekaligus mengering. Membersihkan lantai kotor pun, perlu angin untuk mengeringkan sisa air pelnya, jadi segalanya perlu proses. Cinta untuk siapa dan sebesar apa hanya kita sendiri yang merasakan dan mengetahuinya. Hanya kita yang tahu dan hanya DIA yang berhak mengaturnya. Tidak siapapun, dengan apapun.
Selalu ada cinta dan rindu yang tak ada alamat yang pastinya. Itulah anugrah, bahwa kita masih diberi kesempatan untuk merasakannya, mensyukurinya, dan membagikan untuk yang lain. Tetap mencintai meskipun tidak dicintai. Mencintai dengan tulus, tanpa mengharap imbalan, selalu memberi.
Maka yang terlihat buruk bisa baik, begitu pula sebaliknya. Kita berikan cinta sebanyak yang kita bisa dan mampu, Dia akan penuhi lagi dan hati kita tak akan pernah berkurang.
Tentang pedih dan cinta tak sampai, tentang indahnya cinta bersambut, mesra dan hangatnya kehidupan, keduanya beriringan, harus disyukuri, karena kita diberi kesempatan untuk merasakan dan memahaminya. Jangan hanyut dalam indahnya hidup saja, karena indahnya mimpi sudah pasti semua bisa menikmati.
Inilah Misteri Rasa, Kematian, dan Hidup
Tak ada gading yang tak retak, selamat membaca para kisah Tentang Rasa dan mohon dimaafkan jika ada yang tidak berkenan di hati.
Salam cinta dan selamat berapa saja, Kit Rose
Tidak ada komentar:
Posting Komentar