Mentari menyapa hari seperti yang sudah seharusnya,
bulan nyanyikan rindunya pada malam,
dan aku kembali menyapa diriku,
untuk membasuh hati dengan airmataku,
mengusap diri dengan keringatku,
agar tak ada riak di sana.
Jika rinai di sini akan menjadi hujan lebat,
mungkin memang sudah seharusnya seperti itu,
jika aku ingin ada kabut tipis saja dalam terik matahari,
atau sinar mentari di dalam hujan,
mungkin juga itu sebuah keniscayaan saja buatku.
Lalu,
kuraba pembaringan kelu,
tak ada lagi senyum hangat untukku di sana,
tak ada sapa mesra merayu dini hari,
setiap relung menjadi beku dan kosong,
gelas ini pun kosong dan hampir retak,
ingin kubasuh nodanya,
namun tak ada lagi noda di sana.
Dan sudahlah,
lalu aku hanya termenung menatap malam,
tak hendak kubahas apa yang sudah kulihat tertuang,
agar langkahku kian tegar meniti gelombang,
dan menatap lukisan ini dengan senyum.
senyum indah untuk dini hariku
Tidak ada komentar:
Posting Komentar