denting waktu memburu pada napas kelu
menapak di jalanan beku hampir tak bersuara
berjalan di antara sederet pintu beku tertutup dan terkunci rapat
insan berhati mulia memandang bagai pesakitan penyandang kusta
berebut menghakimi dan berlomba menempelkan tera di wajah
hingga layu terseok sendiri meniti jalanan kelu
mendesah resah tak ingin peduli
entah kapan ajal menjemput
dalam tiupan angin lembut meraup getir
ada kelam berteman diam
tersimpan jeritan saat mereka hendak merebut napas cinta
tergenggam sudah kesakitan saat mereka melucuti putih
mendekap hitam ketika Dia masih berikan cinta
walau tak mau
dan aku
tak ingin berikan air mataku
Tidak ada komentar:
Posting Komentar